Hilangnya Rasa Aman Anak Di Keluarga

Oleh : Abdurrahman Haqiqi

NIM : 12104241023

kekerasan anak

Kekerasan terhadap anak sekarang ini terus terjadi. Bahkan, pelaku kekerasan adalah orangtua kandungnya sendiri. Akibatnya, keluarga pun bukan jaminan sebagai tempat berlindung dan kenyamanan bagi tumbuh dan berkembangnya anak-anak. Kekerasan yang dialami oleh anak dalam keluarga berupa kekerasan fisik, dan seksual. Kekerasan fisik yang dialami oleh anak berupa pukulan dan tendangan yang membuat seluruh tubuh mereka dipenuhi dengan luka lebab, bahkan dari beberapa kasus kekerasan dilakukan lebih kejam lagi. Tubuh mereka melepuh akibat terkena setrika dan kuntum rokok yang menyala. Hal yang lebih riskan anak mendapatkan kekerasan seksual dari orangtua mereka. Mereka dipaksa dan diancam oleh orangtua mereka untuk melakukan hal tersebut, sehingga ada beberapa yang sampai hamil. Kekerasan-kekerasan yang terjadi pada anak pastilah membuat psikis mereka terluka dan terganggu. Mereka akan mengalami rasa kesedihan, trauma, ketakutan, kecemasan, dan depresi yang parah pada diri mereka. Hal tersebut tentunya sangat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.

Data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyebutkan dari 5.361 kasus kekerasan pada anak yang terlaporkan ke Komnas PA sepanjang tahun 2010 hingga 2012, lebih dari 68% jenis kekerasan seksual. Sisanya merupakan bentuk kekerasan fisik. Untuk anak berhadapan dengan hukum, Komnas PA mencatat terjadi 1.494 kasus dengan proporsi jumlah anak laki-laki sebagai pelaku sebanyak 1452 orang dan anak perempuan sebanyak 43 orang. Usia yang paling banyak terjadi adalah usia 13-17 tahun. Adapun anak yang berusia 6-12 tahun sebanyak 17 orang. Dalam kasus keterlibatan anak pada narkotika, Komnas PA masih menggunakan data tahun 2010 di mana 3,8 juta anak mengonsumsi narkotika. Bahkan, data Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan korban narkotika pada 2015 bisa mencapai 5-6 juta anak.

Anak merupakan pihak yang terlemah dalam keluarga, sehingga menjadi objek yang diperlakukan sesukanya. Kekerasan anak di keluarga diidentikkan dengan kekerasan yang dilakukan oleh orangtua tiri, tapi sekarang persepsi tersebut telah pudar. Karena akhir-akhir ini kekerasan anak di keluarga malah dilakukan oleh orangtua kandungnya sendiri, entah itu dilakukan oleh ayah atau ibunya bahkan oleh keduanya. Dengan sadis mereka menyiksa dan melukai darah dagingnya sendiri dengan tangan-tangan mereka. Orangtua kandung yang notabennya memiliki suatu ikatan cinta dan kasih sayang dengan anak-anak mereka yang harus diayomi dan dilindunginya, malah dalam kenyataannya diperlakukan tidak semestinya. Bukan hanya orangtua mereka yang melakukanya, bisa kerabat dekat mereka seperti paman, bibi, kakak, nenek dan kakek mereka sendiri. Mereka yang seharusnya ikut membantu tumbuh dan berkembanya anak malah menjadi seseorang yang menyakiti mereka.

Kemiskinan menjadi sumber utama terhadap kekerasan anak-anak di Indonesia. Kemiskinan yang menjangkit seseorang bisa membuat ia kehilangan nilai moral, religius, dan kemanusiaan pada dirinya. Tingkat stress dan emosi yang tinggi karena tekanan ekonomi membuat orangtua tertutup hati dengan melakukan kekerasan pada anak-anak mereka. Kurangnya keharmonisan dan komunikasi yang baik antara suami dan istri untuk menghadapi masalah-masalah, juga menjadi faktor pemicu tingginya sifat emosional. Ditambah tidak ditanamkan dengan benar nilai-nilai religius dan norma-norma dalam keluarga, yang membuat semakin mudahnya kekerasan itu timbul dan berkembang.

Ketika emosional orangtua sedang tinggi, mereka tidak bisa bersikap tenang dan berpikir positif dalam menghadapi kenakalan anak. Sering orangtua dalam menghadapi kenakalan anak dengan memberikan hukuman, yang tentunya berupa hukuman kekerasan. Kenakalan anak menjadi dalih orangtua melakukan kekerasan, mereka beranggapan bahwa dengan memberikan hukuman yang lebih keras akan membuat anak jera. Sebenarnya anak hanya dijadikan tempat oleh orangtuanya sebagai pelampiasan amarah yang tidak bisa mereka kontrol.

Rumah dan sekolah rentan dengan tindakan kekerasan pada anak. Hasil riset media yang dilakukan Indonesia Media Monitoring Center (IMMC) sejak 23 Juli 2011 hingga 15 Juli 2012. Menunjukkan bahwa 25% tindak kekerasan terhadap anak terjadi di rumah. Sementara 19% terjadi di sekolah, dan 3% terjadi di tempat hiburan dan pusat perbelanjaan. Sekitar 48% terjadi di berbagai tempat, yang masuk kekategori lainnya. Rumah dan sekolah, seharusnya menjadi wilayah dimana anak-anak mendapatkan rasa aman. Tapi ironisnya, justru di rumah dan di sekolah tingkat kekerasan terhadap anak tinggi. Artinya, telah terjadi disfungsionalitas dalam dua ranah tersebut. Anggota keluarga tidak lagi menjadi protektor bagi anak. Anak juga tidak mendapatkan itu di sekolah.

Kekerasan anak dalam keluarga dapat dicegah dengan beberapa sikap dan perbuatan. Dengan mempelihara rasa cinta dan komunikasi yang baik dalam keluarga. Keluarga dibentuk dan diselimuti oleh rasa cinta dari seluruh anggota keluarga, dengan suatu pengikat komunikasi yang baik untuk membentuk suatu keharmonisan. Rasa cinta menjadi air penyejuk untuk mendinginkan rasa emosional atau amarah yang ada dipikiran dan hati, menjadi suatu yang sangat penting untuk diberikan kepada anak oleh orangtuanya . Serta komunikasi yang baik menjadi alat untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam keluarga, disamping untuk mempererat hubungan emosional antara suami, istri, dan anak mereka. Untuk menumbuhkan rasa cinta diperlukan sikap saling mempercayai dan saling menghomati antar anggota keluarga. Sikap saling mempercayai dan saling menghormati akan menimbulkan rasa aman untuk anggota keluarga khususnya untuk anak-anak. Tanamkan dan ajarkan nilai-nilai norma yang baik dan nilai-nilai religius dalam keluarga. Yang nantinya akan menjadi pedoman dan filter didalam keluarga, baik dalam bersikap dan perbuatan.

Sumber :

http://nasional.kompas.com/read/2012/12/22/13370183/Tahun.2012.Kiamat.Anak.Indonesia

http://atjehlink.com/immc-kekerasan-terhadap-anak-dominan-bermotif-eksploitasi-ekonomi-seksual/

http://pinterdw.blogspot.com/2012/02/cara-mewujudkan-keluarga-bahagia.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s