Lindungi Pahlawan Devisa

Oleh: Rizki Meita Utami

NIM : 12104241028

Jika mendengar kata pahlawan devisa apa yang muncul di pikiran Anda?

Pahlawan devisa adalah mereka yang rela merantau ke negeri orang dan mengabdikan diri mereka hanya demi mendapatkan rupiah yang lebih besar daripada rupiah yang mereka dapat jika harus bekerja di negeri sendiri. Harmoni (27) pahlawan malang asal Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat mengaku sempat diperkosa dan mendapatkan perlakuan kasar dari majikannya di Malaysia namun beruntung dia bisa melarikan diri ke Konsultan Jenderat RI Johor Baru. Harmoni pun akhirnya dipulangkan ke Tanah Air, menurut berita dari merdeka.com, Selasa (5/2). Sungguh malang nasibnya hanya karena kurangnya lapangan pekerjaan di negeri sendiri memaksanya merantau ke negeri orang, jika adapun mungkin itu kurang membantu perekonomiannya. Oleh karena itu, negeri ini menjadi sasaran empuk bagi negeri di luar sana untuk merekrut tenaga para pahlawan devisa untuk dipekerjakan sebagai pekerja rumah tangga. Banyak yang mereka korbankan, mereka rela meninggalkan keluarga mereka cukup lama bahkan ada yang sampai sangat lama demi memberikan kesejahteraan yang layak bagi keluarga mereka di tanah air kadang bukan kesejahteraan yang mereka dapatkan namun kesengsaraan.

Banyak diantara para pahlawan devisa yang diperlakukan lebih kejam daripada Harmoni, mereka ada yang tidak mendapatkan gaji sampai berbulan – bulan walaupun mereka bekerja selama bertahun – tahun, ada yang diperkosa, bahkan ada yang dianiaya sampai meninggal dunia. Seperti kasus yang terjadi pada TKW dari NTT yang bekerja di Arab Saudi, dia tak mendapatkan gaji selama berbulan – bulan dari majikannya namun dia hanya mendapatkan siksaan yang kejam sehingga dia meninggal dunia. Bukankah itu kejam? Mereka telah mengabdikan diri mereka kepada majikan mereka dan bekerja dari pagi sampai malam, tapi apa yang mereka dapatkan? Memukuli, mengatai – ngatai, bahkan mencabuli mereka apa itu perbuatan yang manusiawi? Apakah itu pantas mereka dapatkan? Yah, tentu saja sebagai manusia yang memiliki hati nurani menyebut bahwa itu tidak layak diperlakukan oleh manusia, bahkan memperlakukan kucing seperti itu tidak akan tega.

Muncul beberapa ungkapan dari berbagai kalangan tentang maraknya kejadian tersebut kenapa bisa dan sering terjadi. Ada yang menyebutkan bahwa majikannya terlalu kejam terhadap meraka, dan ada juga yang menyebutkan bahwa mereka tidak mengerti apa yang majikan katakan karena mereka adalah TKI ilegal yang tidak mendapatkan pengajaran bahasa yang cukup untuk bekerja di luar negeri jadi bisa menyebabkan adanya kesalahpahaman komunikasi sehingga mereka mendapatkan perlakuan yang tidak selayaknya mereka dapatkan.

Lantas siapa yang harus bertanggung jawab dan hukuman apa yang pantas untuk sang majikan yang telah melakukan perbuatan keji itu? Seolah – olah pemerintah memandang sebelah mata kejadian tersebut dan menganggap itu hal yang sudah biasa terjadi tanpa harus memikirna nasib  para pahlawan devisa yang masih di luar sana dan merasakan betapa sedihnya keluarga yang ditinggalkan. Seharusnya para majikan yang keji itu dihukum dengan hukuman yang berat mengingat mereka telah melakukan hal yang sangat tidak manusiawi mereka seharusnya  mendapat hukuman mati atau hukuman seumur hidup dan seharusnya dari pihak korban harus menuntutnya.

Tak semudah membalikkan telapak tangan jika korban adalah TKW ilegal karena mereka juga melanggar hukum, jadi semua itu harus segera dibenahi dengan cara menertibkan pihak – pihak yang mencoba mendapat keuntungan besar dengan mengirim TKW secara ilegal dan tidak kompeten. Karena mereka juga bersalah karena telah mengirimkan orang – orang tak berdosa ke kandang buaya sehingga mereka menderita. Pemerintah juga diharapkan bisa membuat lembaga perlindungan TKI yang bisa melindungi para TKI yang bekerja di luar negeri dan membelanya secara hukum ketika mereka mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari majikannya.

Andaikan di Indonesia tercinta ini banyak lapagan pekerjaan dan orang – orangnya mampu menciptakan lapangan kerja sendiri dan masyarakat di Negara ini memiliki SDM yang tinggi sehingga mampu mengolah SDA sendiri maka orang Indonesia tidak perlu pergi jauh – jauh ke Negeri orang hanya demi mendapatkan rupiah yang lebih banyak. Namun kenyataannya masih belum seperti yang kita semua harapkan, lapangan kerja masih minim, kemiskinan makin menjadi – jadi itulah yang membuat masyarakat kalangan bawah banyak yang tergiur untuk bekerja di negeri orang dengan cara yang ilegal juga tak masalah tanpa mengetahui resiko yang akan mereka dapatkan.

Mulai sekarang pemerintah harus lebih tegas dalam mengatasi masalah tersebut karena bagaimanapun itu telah melayangkan nyawa orang dan telah merenggut hak orang untuk hidup lebih baik. Meraka semua memerlukan perlindungan yang kuat agar mereka tidak mendapatkan perlakuan seperti itu karena mereka adalah manusia yang tidak seharusnya diperlakukan secara kejam dan tidak manusiawi. Apakah perlu melibatkan pengadilan internasional untuk menangani kasus tersebut? Jika bisa lebih baik kenapa tidak, karena peristiwa itu juga melibatkan dua Negara jadi akan terasa lebih baik jika pengadilan internasional terlibat dalam mengambil keputusan hukuman untuk tersangka.

Tapi akan lebih baik jika Indonesia tidak lagi mengirimkan TKW ke luar negeri untuk dijadikan pembantu rumah tangga lagi dan menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dan lebih baik di negeri sendiri karena jika seperti itu terus negeri ini tak akan maju – maju. Karena seungguhnya tidak seharusnya kita terus – terusan ditindas dijadikan budak Negara lain dan diperlakukan secara kejam sehingga menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah. Kata Bung Karno “Lebih baik makan gaplek daripada harus menjadi budak.”

Stop perbudakan! Stop kekerasan! Stop kirim TKW!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s