Apa kita mengidap Amnesia Budaya?

Oleh : Fitriana Diah Proboastiningrum

NIM : 12104241017

Budaya yang ada di Indonesia semakin beragam. Namun sayangnya, budaya itu bukan budaya milik kita tapi milik bangsa lain yang kita banggakan dan kita ikuti perkembangannya. Lalu bagaimana dengan budaya sendiri, apa kita juga mengikuti perkembangannya?

Budaya yang semakin beragam yang mendominasi adalah bukan lain lagi yaitu lebih didominasi dampak negatifnya daripada dampak positif. Hal ini dapat dibuktikan yakni dengan adanya budaya yang semakin beragam yang muncul dari berbagai kebudayaan bangsa luar yang melanda kaum muda-mudi bangsa Indonesia.

Ya, sangat miris sekali, yang menjadi korban penyakit ini justru adalah tidak lain dari kalangan generasi penerus bangsa yang seharusnya dapat melanjutkan apa yang telah diperjuangkan oleh para pejuang bangsa akan apa yang telah mereka dapatkan, dari segi bidang apapun, terutama budaya. Ternyata memang benar bahwa kalangan muda-mudilah yang saat ini menjadi korban dari penyakit Amnesia Budaya.

Bisa dibilang generasi muda saat ini lebih menyukai film box office bila dibanding dengan menonton wayang semalam suntuk. Remaja sekarang lebih senang mengenakan baju model Korea bila dibanding mengenakan batik ataupun kebaya. Ini terjadi karena masih adanya anggapan bahwa keren itu ketika kita bisa meniru gaya luar negeri sehingga budaya-budaya dari luar negeri lebih mudah diserap oleh masyarakat Indonesia.

Fenomena restoran fast-food juga merupakan bentuk umum budaya massa. Perlu diingat, makanan adalah salah satu komponen material budaya. Restoran yang di Negara asalnya disebut menyediakan junk-food (makanan sampah), di Indonesia justru dimaknai secara baru high-class. Hampir seluruh kalangan masyarakat (kaya, miskin, tua, muda) menemui pemenuhan kebutuhan sosial mereka di restoran fast-food McDonald, termasuk ke dalamnya Kentucy Fried Chicken, Hoka-hoka Bento, Pizza Hut, dan sejenisnya. Jika ditelusuri mendalam maka penyebaran restoran-restoran fast-food ini dijalankan oleh satu perusahaan. Mereka menjalankan manipulasi publik dengan menawarkan kelezatan, kecepatan, dan kenyamanan. McDonald adalah milik Ray Croc yang ia bangun pada tahun 1955. McDonald mengklaim memiliki 30.000 anjungan di seluruh dunia dan seharinya dikunjungi 50.000.000 orang.

Kasus Sipadan dan Ligitan yang kini telah menjadi milik Malaysia, menjadi bukti lemahnya bangsa Indonesia memahami konsep Wawasan Nusantara. Permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia semakin hari semakin berat, maka penerapan dan pemahaman konsep wawasan nusantara sebagai landasan visional mutlak perlu ditanamkan kembali dalan tatanan kehidupan masyarakat Indonesia. Euforia reformasi telah menghilangkan arah dalam pembangunan yang merata dan adil, karena hilangnya arah visional pembangunan bangsa. Era desentralisasi dan globalisasi saat ini, menjadi tantangan dan peluang bagi bangsa Indonesia, untuk terus bertahan dan menjaga keutuhannya.Tantangan globalisai yang semakin besar akan merusak keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia Apabila tidak memiliki arah pandangan hidup yang kuat. Pemahaman yang kuat tentang konsep wawasan nusantara dapat menjadi banteng dalam mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dari beberapa kasus yang dipaparkan, dapat menjadi bukti bahwa kalangan remaja yang banyak menjadi korban dari penyakit yang benar-benar menyebar luas. Tidak hanya dari segi penampilan, namun ternyata dari makanan juga dapat membuat kita mencintai kebudayaan lain daripada budaya kita sendiri.

Kalangan muda-mudi zaman sekarang jauh lebih mengenal badaya asing daripada budayanya sendiri. Budaya asing lebih gencar dan mampu menarik kalangan muda-mudi yang saat ini masih mencari berbagai hal yang menurutnya unik. Ini merupakan salah satu faktor yang membuat para kalangan generasi penerus tidak tahu bahwa bangsa kita sebenarnya sangat kaya akan budaya.

Kehadiran budaya asing sangat membuat kalangan ini semakin lupa akan betapa melimpahnya budaya bangsa kita. Banyak sekali budaya yang seharusnya kita banggakan, yang seharusnya kita pamerkan ke bangsa lain, bukan budaya lain yang kita banggakan dan pamerkan di bangsa sendiri.

Apa itu yang telah kita lakukan? Benar-benar miris, para pemuda zaman sekarang adalah korban dari penjajahan bangsa lain dalam bidang budaya. Kita sudah merdeka sejak 67 tahun yang lalu, tapi kenapa justru sekarang kita para generasi yang sudah merdeka dan tinggal mempertahankan dan memajukan Indonesia justru sekarang dijajah lagi.

Pernah terfikir tidak kalau kita sudah mengesampingkan budaya sendiri? Sungguh, tak pernah terbayangkan. Tapi hal itu memang telah terjadi. Kita telah mengesampingkan budaya, bahkan kita telah melupakan kekayaan yang sangat melimpah ini.

Masih ingatkah kita akan Wayang, Kethoprak, budaya berpakaian, budaya bersikap, Tari-tarian tradisional dan kebudayaan yang lain yang menandakan ciri dari bangsa yang sangat terkenal akan adat dan budaya yang baik. Atau jangan-jangan tarian bahkan budaya khas daerah sendiri juga tidak tahu. Wah-wah, nampaknya kita perlu memikirkan apakah kita mengidap Amnesia? Ya, Amnesia Budaya.

Masih adakah daerah yang masih memilki dan memegang erat akan budaya yang dimilki? Mungkin daerah Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, Bangka, Kalimantan, Yogyakarta, Papua, atau yang lain masih memiliki kekentalan budaya yang melimpah.  Wah, sepertinya kita musti melakukan penelitian untuk hal yang satu ini. Apakah daerah kita sendiri termasuk daerah yang masih kental akan budaya atau malah daerah yang sudah tidak memilki budaya? Jangan sampai kita mendiami tempat yang sudah tidak memilki budaya.

Jika sudah mendiami daerah yang sudah tidak memegang erat kebudayaan, lalu kapan kita akan kembali tahu dan menurunkan pada anak cucu akan kekayaan yang budaya yang kita miliki? Kita tidak boleh membiarkan diri kita semakin terjajah dengan budaya-budaya asing. Ini saatnya kita kita terbangun dari hiburaan sesaat yang disuguhkan oleh para penjajah. Dan mulai menggencarkan dan memamerkan betapa indah dan beragamnya budaya yang kita milki.

Tidak selamanya dengan meniru budaya lain itu baik untuk diri kita. Apa yang telah disuguhkan oleh para penjajah budaya adalah merupakan salah satu siasat untuk merusak moral dan kekentalan budaya yang kita milki, bukan malah mendongkrak kita untuk menjadikan budaya kita menjadi budaya yang merajai dunia.  Berpakaian modis tapi meniru gaya barat yang menonjolkan apa yang tidak sepatutnya, apa pernah terlintas apa dampak untuk diri kita? Mengikuti gaya yang ditunjukkan para artis luar, jangan jadikan itu kebanggan. Jangan menjadi generasi penerus yang hanya bisa meniru orang lain bukan meniru orang tuanya sendiri.

Apakah kita akan melepaskan lagi budaya yang kita miliki namun di klaim bangsa lain? Kita tidak akan membiarkan mereka merebut apa yang kita miliki. Jangan biarkan mereka mengambil kekayaan kita lagi. Kita tentu tidak rela kekayaan kita direbut bangsa lain sehinggan kita jatuh miskin dari sikap kita sendiri.

Sepertinya kita perlu mengobati penyakit yang lama-lama akan menggerogoti kita dan bangsa. Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk kita mengobati, memulihkan dan menghindari penyakit yang sangat berbahaya dan sudah mewabah di Indonesia. Pahami dan cintai apa yang kita miliki, tidak hanya itu banggakan dan pamerkan pada bangsa lain bahwa kita jauh lebih baik dari mereka. Mulailah mengkonsumsi makanan-makanan yang mengandung Keragaman Budaya dengan bahan Budaya Bangsa.

 

Beberapa referensi yang diambil unuk memperkuat artikel :

http://carapedia.com/masalah_budaya_indonesia_info3022.html

http://setabasri01.blogspot.com/2012/04/budaya-massa-di-indonesia.html

http://jakarta.kompasiana.com/sosial-budaya/2013/03/30/pengertian-contoh-kasus-dan-manfaat-wawasan-nusantara-546535.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s