Pendidikan Indonesia Perlu Perubahan!

Oleh : Amellia Riani

NIM : 12104241040

Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia tentu sangat pelik dan tidak ada habisnya. Pendidikan di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Masalah terus bermunculan baik dari pihak pemerintah, pendidik, dan peserta didik. Misalnya saja masalah pemerataan pendidikan di Indonesia, banyak anak-anak di pelosok negeri sana tidak mengenal pendidikan. Di sisi lain, mereka yang berpendidikan justru mulai meninggalkan nilai-nilai moral. Misalnya saja, tawuran antar pelajar, budaya mencontek yang merajalela di kalangan peserta didik, bahkan di kalangan pendidik. Secara tidak langsung budaya semacam ini adalah awal dari kerusakan bangsa. Bukankah pendidikan adalah membimbing manusia ke arah yang lebih baik? Pendidikan yang harusnya mampu menjawab tantangan jaman dan melestarikan nilai-nilai budaya sudah disalahartikan. Sebenarnya apa yang salah dengan pendidikan Indonesia? Pendidikan Indonesia memerlukan perubahan.

Pemerintah harusnya lebih jeli dalam membuat perubahan yang berarti bagi pendidikan di Indonesia, yakni dengan lebih dahulu memprioritaskan kompetensi profesional/kualitas guru sebelum membuat kebijakan yang lain misalnya merubah kurikulum, membubarkan sekolah RSBI dan sebagainya. Apapun kurikulumnya, sekolah RSBI atau bukan, jika tenaga pendidiknya adalah guru-guru profesional maka pendidikan Indonesia mampu mengalami kemajuan. Guru adalah kunci keberhasilan utama dalam pembelajaran, tidak hanya memberikan pengetahuan saja, melainkan guru juga harus memberikan keteladanan bagi siswanya. Anak bangsa kurang akan tokoh atau sosok idola yang selayaknya ditiru. Setidaknya pendidikan khususnya tenaga pendidik mampu menjadi sosok idola dan inspirasi bagi peserta didiknya.

Kendati secara kuantitas jumlah guru di Indonesia cukup memadai, namun secara kualitas guru di Indonesia masih rendah. Seringnya kelas kosong guru hanya meninggalkan catatan, pola pikir guru yang penting sudah menyampaikan materi tanpa mempedulikan paham atau tidaknya peserta didik terhadap materi tersebut, dan sebagainya. Jika diukur dari persyaratan akademis, baik menyangkut pendidikan minimal maupun kesesuaian bidang studi dengan pelajaran yang harus diberikan kepada peserta didik ternyata banyak guru yang tidak memenuhi kualitas mengajar. Tidak sedikit fenomena guru “jadi-jadian” yakni guru yang mengajar bukan pada bidang studinya. Guru bahasa Inggris menjadi guru kelas, guru olahraga menjadi guru BK. Di sini muncul pertanyaan bagaimana bisa guru tersebut melaksanakan pembelajaran dengan baik pada suatu bidang yang bukan bidangnya?

Menurut Barlow (dalam Muhibbinsyah, 1997) kompetensi profesional guru merupakan kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya. Oleh karena itu, guru yang profesional adalah guru yang mampu melaksanakan kewajibannya dengan kemampuan tinggi (profesional) sebagai sumber kehidupan (profesi). Briggs (1985) menyebutkan bahwa guru dikatakan professional apabila ia menguasai pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat menyampaikan kepada siswa dengan baik, mampu dan siap mengadaptasikan berbagai teknik mengajar sesuai dengan kebutuhan siswa, serta melibatkan siswa dalam aktivitas belajar secara efektif dan efisien dengan hasil yang optimal.

Guru yang profesional setidaknya memiliki kompetensi yang bersifat psikologis, meliputi: kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor. Secara kognitif guru harus memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan yang menunjang dalam pembelajaran, serta mampu  menggunakan bermacam-macam metode secara kreatif sesuai dengan materi dan kebutuhan siswa. Secara afektif guru harus memiliki perasaan dan sikap yang menunjang proses pembelajaran. Misalnya ramah dan bersahabat terhadap peserta didik, memberikan penilaian positif terhadap dirinya sendiri sehingga mampu mengajak, mendorong dan membimbing siswanya supaya lebih maju. Sebagai seseorang yang menjadi pusat perhatian di kelas, guru juga harus memiliki kemampuan psikomotor yang baik. Yang direfleksikan dalam bentuk tindakan atau gerakan umum seperti cara berjalan, duduk, berdiri, berjabat tangan, serta mengekspresikan diri secara verbal maupun nonverbal.

Apabila semua guru di Indonesia memiliki kompetensi-kompetensi di atas, bisa kita bayangkan bagaimana nantinya kemajuan pendidikan di Indonesia. Tentunya siswa tidak lagi mencari-cari idola. Dengan sendirinya ia terinspirasi akan sosok gurunya sehingga memberikan dorongan tersendiri bagi siswa tersebut untuk menjadi lebih baik. Fenomena jam kosong dan guru “jadi-jadian” pun tak lagi ada. Seharusnya guru menjadikan hal ini sebagai bahan renungan. Sejauh mana ia memberi kontribusi terhadap pendidikan Indonesia? Apakah ia sudah menjadi guru yang profesional?

Jalan menuju guru profesional sebagai sumber perubahan (agent of change) bagi pendidikan di Indonesia antara lain guru harus meluruskan niat, segala upaya yang dilakukan hanyalah untuk Allah semata, wujud pengabdian sebagai hamba-Nya bukan karena jabatan, kedudukan atau harta. Bukankah guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa?

Berikutnya adalah senantiasa mengembangkan akal rasional yang disertai dengan pengembangan kecerdasan emosi dan spiritual. Sebagai seorang guru yang dituntut memberikan keteladanan bagi siswanya hendaknya guru menanamkan nilai-nilai akhlak pada setiap tindakan yang dilakukan sehari-hari. Yang terakhir adalah senantiasa meningkatkan keprofesionalan dirinya sebagai seorang guru, misalnya dengan menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mengikuti UKG (Uji Kompetensi Guru) sebagai cara untuk mendapatkan sertifikasi, melibatkan diri secara aktif dalam pelatihan atau seminar.

Semua usaha-usaha itu akan berujung pada pendidikan Indonesia yang kembali berfungsi sesuai dengan maknanya, yakni proses menjadikan manusia menjadi individu yang lebih baik, dapat mencapai seluruh perkembangan dalam kehidupannya. Lebih jauh, bangsa ini siap menghadapi tantangan jaman selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

One response to “Pendidikan Indonesia Perlu Perubahan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s