Indonesia Negara Agraris, Kebutuhan Pokok Miris

Oleh : Ani Putri Wahyuni

NIM : 12104241032

Indonesia merupakan negara agraris karena mayoritas penduduk Indonesia bercocok tanam. Hal ini dikarenakan iklim dan struktur Indonesia yang sangat mendukung untuk bertani. Selain itu lahan yang luas juga menjadi alasan kenapa indonesia disebut negara agraris. Hebatnya lagi, indonesia juga pernah melakukan swasembada beras pada puluhan tahun silam.

Kalau di era orde baru kita banga bisa sukses berswasembada pangan karena perhatian pemerintah pada saat itu  benar-benar fokus pada sektor pertanian. Namun sekarang Indonesia sebagai Negara agraris yang paling hobi mengimpor berbagai produk pangan. Indonesia sebagai negara agraris, tetapi masih mengimpor bahan-bahan pokok seperti beras, ikan, garam, bawang, singkong, jagung, dan lain-lain. Kondisi ini menjadi hal yang aneh untuk negara sebesar dan sekaya Indonesia.

Hal ini terjadi karena para pemegang kebijakan belum mampu mengolah kekayaan alam Indonesia dengan baik. Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah dan wilayah yang sangat luas, hanya saja, kekayaan alam yang melimpah itu belum mampu menjadikan negeri ini sebagai negara produsen, tapi justru menjadi pengimpor.

Kenapa bisa terjadi seperti sekarang ini, ada beberapa faktor diantaranya, para petani yang mengeluhkan kalau biaya untuk bercocok tanam dengan hasil yang di panen tidak sebanding, bahkan bisa terus  merugi sehingga mereka cenderung lebih memilih menjual lahannya dengan harga yang menurut mereka menguntungkan, namun  untuk jangka panjang justru berpengaruh terhadap siklus perkembangan dan kehidupannya. Dari pada menjadi seorang petani tapi terus hidup susah mending jual saja tanahnya.

Fenomena yang tidak aneh lagi ialah terjadi alih fungsi lahan pertanian menjadi daerah sentra industri atau pemukiman. Program revolusi hijau yang diselenggarakan pemerintah mengabaikan kepemilikan dan penguasaan lahan pertanian. Banyak kebijakan pemerintah yang tidak pro pada sektor pertanian, salah satunya dengan mengkonversi lahan pertanian menjadi daerah industri, pelebaran jalan, pembuatan perumahan dan real estate, lapangan golf, pembangunan DAM, serta sektor non pertanian lainnya.

Ironisnya, indonesia saat  ini menjadi salah satu importir produk pangan terbesar di dunia, pemerintah lebih memilih impor karena harga yang lebih murah. Indonesia tidak lagi mampu berswasembada beras, petani pun merana karena  terkena imbas dari mahalnya pupuk.

Melihat kondisi indonesia sekarang ini sepertinya julukan Indonesia sebagai Negara agraris patut dipertanyakan. Katanya, Indonesia adalah negara agraris, tapi sekarang sepertinya nasib petani membuat miris, lahan pertanian pun semain terkikis, lama kelamaan menjadi habis, dan bisa-bisa kebutuhan pangan menjadi krisis.

Masalah ketahanan pangan sudah menjadi masalah buat kita semua, bukan hanya para petani dan pemerintah saja yang harus berperan, tapi kita pun harus turut serta berkontribusi menjaga produk-produk pangan dalam negeri supaya bisa tetap eksis. Dengan membeli produk lokal meskipun lebih mahal tidaklah menjadi persoalan yang berat, hitung-hitung membantu kehidupan para petani kita, lagi pula kualitas produk dalam negeri tidak kalah bagus di bandingkan dengan produk impor. Semoga ke depan Indonesia menjadi negara produsen yang mampu memasok segala kebutuhan masyarakat dunia. Bukan hanya sebagai konsumen bagi negara lain seperti sekarang ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s