Ironi Gizi Buruk Di Negeri Pangan

Oleh : Indriyani

NIM : 12104241004

Indonesia merupakan negara agraris, dimana Indonesia termasuk salah satu negara penghasil pangan terbesar di dunia. Sejak zaman penjajahan Belanda, Indonesia sudah dikenal sebagai negara penghasil pangan terutama padi. Perkembangan Indonesia sebagai negara agraris dewasa ini dapat dikatakan bahwasannya Indonesia mengalami pasang surut dalam perkembangannya mengahasilkan pangan. Di lansir melalui kompas.com pada artikel mengenai impor beras dari Thailand yang masuk ke Indonesia pada tahun 2011 dapat sedikit disimpulkan bahwasannya keadaan Indonesia sebagai negara pangan mengalami penurunan.

Indonesia saat ini mengalami permasalahan yang serius dalam masalah pangan, walaupun di beberapa daerah di Indonesia masih dikatakan sebagai daerah penghasil pangan. Indonesia melakukan impor dan ekspor dalam perkembangannya. Permasalahan pangan yang cukup menyorot perhatian adalah dimana nilai jual hasil pangan yang dihasilkan oleh petani-petani di Indonesia, mengalami kenaikan harga jual di pasaran. Hal ini berdampak kepada rendahnya minat konsumen masyarakat Indonesia terhadap hasil pangan lokal.

Tingginya harga jual atas hasil produk pangan lokal mengakibatkan menurunnya tingkat konsumtif terhadap produk pangan lokal yang berakibat pada tingginya nilai konsumtif terhadap produk pangan yang di impor dari negara luar yang dianggap lebih murah harganya dari produk pangan lokal. Kenyataan ini yang kemudian menjadi salah satu fakor yang mempengaruhi terjadinya gizi buruk di Indonesia.

Gizi buruk merupakan satu keadaan di mana jumlah asupan gizi didalam diri seseorang itu sangat kurang atau bahkan jauh diatas standar. Seperti yang kita ketahui belakangan ini Indonesia mengalami permasalahan gizi buruk hampir diseluruh daerah di Indonesia

Ironi ini bukan hanya penderitaan korban atau kematian massal dalam waktu tertentu, tetapi juga “kematian” sebuah generasi yang menentukan hidup matinya negeri ini. Sungguh ironis mengingat status Indonesia sebagai negara agraris. Daerah-daerah tertentu mengalami surplus produksi pangan. Adanya kasus busung lapar dan sejumlah penyakit lain akibat kemiskinan, menunjukkan bahwa Pemerintah gagal memenuhi kebutuhan dan hak dasar minimum rakyat: pangan dan kesehatan. Negeri ini telah salah kelola. Menunjukkan bobroknya sistem kapitalis baik dalam sistem ekonomi dan sistem politik negeri ini. Jadi, berbagai kasus muncul karena sistem yang salah dan pengelolaan yang juga salah.

Masalah gizi buruk yang ada di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor yang mana bila kita jabarkan faktor-faktor penyebab gizi buruk di negeri pangan Indonesia antara nya dikarenakan rendahnya tingkat ekonomi, tidak meratanya distribusi pangan, kurangnya pelayanan kesehatan, rendahnya tingkat pendidikan dan mahalnya harga pangan di pasar Indonesia.

Rendahnya tingkat ekonomi masyarakat di beberapa daerah terpencil di Indonesia sebenarnya erat sekali kaitannya dengan rendahnya tingkat pendidikan yang didapat. Banyak sekali penderita gizi buruk di Indonesia dialami oleh keluarga ekonomi menengah ke bawah. Hal ini terjadi karena terbatasnya pendapatan mereka yang berakibat pada tidak adanya kesadaran diri untuk memperhatikan pola gizi mereka dengan sistem 4 sehat 5 sempurna. Sehingga membuat mereka makan dengan keadaan seadanya tanpa memperhatikan kandungan gizi. Faktor kepercayaan adanya anggapan banyak anak banyak rezeki berakibat banyaknya biaya yang diperlukan dalam satu keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga masalah kandungan nilai gizi dalam makananpun terabaikan.

Studi kasus masalah ini terjadi di Makasar jalan Dg Tata I Blok 5. Keluarga dari seorang pengayuh becak yang memiliki lima anak. Tiga orang anaknya meninggal karena sangat kurangnya asupan gizi. Penghasilan yang hanya Rp.5000/hari tidak dapat mencukupi kebutuhannya, sehingga mereka mengkonsumsi nasi yang dijadikan bubur dengan campuran minyak jelantah sebagai kuahnya. Masalah itu ditimbulkan oleh sulitnya pendistribusian bahan pangan ke daerah-daerah terpencil di Indonesia seperti daerah papua, pendistribusi barang pangan melalui pesawat terbang saja, sedangkan jumlah penduduk didaerah terpencil ini biasanya merupakan daerah padat penduduk. Tidak meratanya distribusi barang ini yang kemudian juga mempengaruhi terjadinya gizi buruk di daerah-daerah terpencil.

Dalam masalah ini pemerintah juga harusnya memiliki peranan penting dalam mengatasi masalah gizi buruk di Indonesia, tetapi sebaliknya pemerintah Indonesia masih kurang memperhatikan maslah gizi buruk yang terjadi. Perhatian pemerintah terhadap gizi buruk hanya jika maslah kasus gizi buruk ini mencuat ke media massa setelah berita ini dilupakan pemerintahpun seolah melupakan masalah ini.

Pelayanan kesehatan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan gizi buruk di Indonesia. Dimana pelayanan kesehatan merupakan suatu hal yang sangat sukar di dapat di Indonesia khusunya untuk kalangan menegah ke bawahini sering kali dipersulit dengan segala alasan di pelayanan kesehatan.

Indonesia sebagai negara penghasil pangan dapat dikatakan sebagai negara yang gagal dalam menyelenggarkan kesejahteraan penduduknya. Dimana hal ini dicerminkan dengan banyaknya kasus-kasus gizi buruk yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia.

Sumber:

v  Kompas

v  Rubrik berita

v  Harian fajar

v  Metrov news

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s