Kisah Moral Di Balik UN

Oleh : Ajeng Priharsanti

NIM : 12104241019

Ujian Nasional, sepertinya sudah menjadi bayang-bayang yang mengerikan bagi siswa yang akan menjalaninya.  Ketakutan itu membuat siswa melakukan kecurangan seperti mencontek, kerjasama dengan teman, jual beli jawaban UN, dan yang lebih parah lagi, siswa mendatangi ‘orang pintar’ untuk meminta do’a atau kemudahan dalam mengerjakan soal UN.  Hal ini tidak satu dua siswa yang melakukannya.

Kebanyakan siswa yang melakukan tindakan tersebut dilatar belakangi karena ketakutan pada diri mereka dan juga rasa tidak percaya diri dalam mengerjakan soal UN.  Mereka tidak sadar, bahwa melakukan tidakan seperti diatas, bahkan mencontek saja telah melanggar kaidah agama.  Tapi yang lebih memprihatinkan lagi, para guru yang seharusnya menentang tindak kecurangan UN malah mendukung siswanaya agar melakukan hal tersebut agar nilai merka baik.  Mereka diminta bekerja sama dengan semua teman sekelas agar berbagi jawaban, seperti yang di lakukan SD Negeri 06 Petang, Pesanggrahan, Jakarta Selatan pada tahun 2011 seperti yang saya baca di kompas.com.

Sesuai dengan Q.S Al Mujaadilah: 11 yang berbunyi dibawah ini:

 

Artinya:

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al Mujaadilah : 11 )

Dalam ayat tersebut telah dijelaskan bahwa Allah mengetahui apa yang kita kerjakan.  Allah Maha Melihat, Allah melihat setiap jengkal pergerakan kita, setiap nafas yang kita hembuskan.  Mencari ilmu wajib hukumnya bagi orang muslim.  Sesuai dengan hadist riwayat dibawah ini:

Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. (HR Bukhari dan Muslim)

Jalan yang dimaksud Allah sudah jelas dengan jalan yang diridhaiNya, dengan jujur, iklas dan dapat membagi ilmunya dengan orang lain agar bermanfaat.

Penanaman nilai agama yang kurang, membuat para siswa berlaku curang dalam ujian.  Bahkan orang tua dengan suka rela membawa mereka ke orang pintar untuk meminta jampi-jampi atau hal semacamnya.  Para siswa yang menginginkan lulus denga nilai yang baik menambah alasan mereka dalam bertindak curang.

Walaupun begitu, masih ada siswa yang jujur dalam mengerjakan sesuai dengan kemampuan sendiri walaupun tidak banyak, seperti yang dilakukan oleh Alif, siswa SD Negeri 06 Petang, Pesanggrahan, Jakarta Selatan yang membongkar tindak kecurangan UN sekolahnya, yang melibatkan oknum guru yang seharusnya memberikan pendidikan yang baik pada muridnya.  Hasilnya, Alif malah dicemooh oleh semua orang di sekolah, bahkan Alif diusir oleh masyarakat dimana ia tinggal karena dinilai Alif orang yang sok pahlawan, dan budaya mencontek (kecurangan) sudah menjadi hal biasa di kalangan warga (kompas.com)  Pemikiran warga tersebut sudah jelas menunjukkan bahwa mental bangsa Indonesia yang sudah menjadi mental curang, mencontek, mental ‘leha-leha’ yang menginginkan hasil bagus tanpa usah.  Hal itu tidak sesuai agama, karena agama menganjurkan dalam mencari ilmu, kita harus melalui jalan yang benar, agar nanti dimudahkan oleh Allah SWT dalam memahami ilmu tersebut, bahkan mengamalkannya.

Tindakan kecurangan UN harus dapat dikurangi, bahkan perlu dihilangkan.  Dengan memberikan pelajaran agama secara intensif, tidak hanya teori, tetapi siswa juga harus dapat memahami dan mengimplikasikan pelajaran agama secara nyata.  Pemberian pendidikan karakter juga perlu dilakukan karena pendidikan karakter dapat membentuk mental siswa yang percaya diri dan menanamkan pada diri siswa bahwa mereka bisa mengerjakan dengan usaha sendiri.  Para guru pelajaran dan juga guru BK berperan penting dalam memberikan motivasi belajar pada siswa agar mereka mempunyai semangat dalam belajar, bukannya memberi mereka pendidikan mencontek/berlaku curang saat ujian.

Orang tua juga berperan dalam memberikan motivasi pada anak.  Berikan anak kenyamanan dalam belajar, jangan memaksa anak atau mematok nilai anak harus mendapat nilai tinggi, pemaksaan itu dapat membuat anak terbebani dan membuat anak takut kalau nanti akhirnya ia mendapat nilai jelek.

Bagaimanapun, mencontek adalah tindakan tercela yang tidak sesuai dengan kaidah agama.  Marilah kita sebagai anak bangsa mulai merintis budaya jujur.  Tidak hanya dalam UN, tapi setiap tindakan kita sehari-hari.  Tanamkan dalam rasa percaya diri dalam diri, dan selalu tawakal kepada Allah SWT.  Karena semua tindakan kita, Allah-lah yang mengatur, dan semua pasti akan ada balasannya.

 

Referensi:

http://remaja-muslim.com/bukan-ujian-nasional-tetapi-ujian-kejujuran/

kompas.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s