Malpraktek dan Profesionalitas Dokter

Oleh : Mei Aryani Dharmawati

NIM : 12104241002

Memiliki badan yang sehat jasmani maupun rohani adalah harapan setiap orang. Tidak dapat dipungkiri bahwa untuk mendapatkan badan keadaan tubuh yang sehat, ada beberapa usaha yang perlu dilakukan. Tuntutan pekerjaan yang membuat waktu makan, berolahraga kurang, dan juga semakin maraknya makanan yang kurang sehat bermunculan inilah yang dapat menyebabkan kita mudah terserang penyakit. Saat ini banyak bermunculan makanan yang sebenernya dapat mengganggu kesehatan tubuh kita, namun karena sesuatu yang mendesak, kita tetap mengkonsumsi makanan tersebut. Dengan fenomena tersebut dan seiring dengan perkembangan zaman saat ini lah, banyak bermunculan penyakit yang sukar untuk disembuhkan. Karena sukar untuk disembuhkan, tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini banyak kasus malpraktek terjadi di Indonesia. Dan sudah menjadi kebiasaan masyarakat, apabila merasakan gejala sebuah penyakit atau hanya sekedar  memeriksakan kesehatannya, mereka datang ke dokter untuk memeriksakan diri. Setelah memeriksakan diri dan mendapatkan obat dari dokter, mereka berharap dapat segera sembuh dari penyakit tersebut. Seperti contoh kasus Prita dengan pihak RS OMNI di Jakarta yang sempat menjadi obrolan hangat beberapa waktu yang lalu. Banyak kasus malpraktek terjadi, dan kasus Prita ini hanya salah satu kasus dari beberapa kasus yang diangkat di media. Lalu, jika terjadi malpraktek seperti ini siapakah yang harus disalahkan? Pasien ataukah profesionalisme dokter yang masih dipertanyakan?

Pada waktu yang sangat dibutuhkan, pengambilan keputusan tentang tindakan apa yang harus dilakukan oleh seorang dokter pada pasiennya adalah hal yang sangat menentukan. Karena pengambilan tindakan ini bersangkutan langsung dengan nyawa seseorang, maka apabila seorang dokter salah dalam mengambil keputusan maka akan berakibat fatal bagi diri seorang pasien. Banyak kasus juga , tentang penanganan pertama pada mereka yang memiliki uang. Rumah sakit memberikan layanan pertama pada mereka yang mampu melunasi biaya rumah sakit dibandingkan mereka yang kurang mampu. Seperti kasus bayi Bilqis yang memiliki penyakit kelainan hati,  dengan kasus ini seolah-olah mencoreng nama baik pihak medis dan memberikan pandangan pada zyang mementingkan adanya kemampuan financial pasien. Pada kasus Bilqis ini, masyarakat memberi perhatian penuh,  sehingga banyak bermunculan aksi peduli seperti koin untuk Bilqis.

Dengan adanya perkembangan teknologi dalam peralatan medis saat ini, harusnya dapat semakin membantu dokter dalam menangani pasien. Dalam menyembuhkan pasien tentu juga diperlukan  kecakapan yang dimiliki oleh seorang dokter. Sangat pentingnya peran dokter dalam pengambilan keputusan inilah yang diharapkan pada calon-calon dokter agar bersungguh-sungguh dalam memperdalam ilmu medis yang dipelajarinya, sehingga tidak akan terjadi lagi kasus malpraktek seperti yang marak terjadi pada saat ini. Calon mahasiswa kedokteran diharapkan adalah mereka yang benar-benar memiliki keinginan untuk menjadi dokter. Tidak hanya untuk menginginkan sebuah prestise atau hanya karena ingin dihormati dalam masyarakat. Karena banyak femonema yang terjadi dalam masyarakat, mahasiswa kedokteran adalah mereka anak-anak yang dituntut menjadi dokter karena paksaan dari orang tua. Sehingga dalam melaksanakan masa pendidikan,  mereka merasa terbebani dan nantinya akan kurang baik bagi kelangsungan hidup mereka karena merasa tidak ikhlas dalam menjalaninya. Setiap anak memiliki keinginan untuk menjadi apa yang ia inginkan kelak, diharapkan orang tua memberikan arahan dan dorongan agar keinginan anaknya dapat tercapai. Orang tua sangat berperan penting dalam memberikan sebuah dukungan dalam bentuk apapun untuk anaknya. Anak akan merasa sangat dihargai apabila orang tua menjadikan mereka anak yang sangat diberi kepercayaan dalam pemilihan suatu jurusan.

Perlunya kematangan pemilihan jurusan pada seorang calon dokter rasanya sangat perlu dikembangkan, sehingga nantinya akan tercipta dokter yang professional, cakap dan memiliki kematangan karir yang sesuai dengan spesialisasinya. Akan sangat menyenangkan jika suatu pilihan untuk menjadi dokter adalah murni keinginan dari diri sendiri, sehingga ia akan totalitas dalam melaksanakan pendidikan hingga pekerjaannya menjadi dokter kelak. Kasus malpraktek pun tidak akan terjadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s