Memandang Lebih Dalam RUU Santet

Oleh : Azizatun Nufus

NIM : 12104241018

Santet dalam istilah fiqih sampai sekarang belum dapat ditemukan. Namun jika ditelusuri secara sosio-antropologis, kira dapat disamakan dengan dengan sihir dalam bahasa Arab. Oleh karena itu santet dapat diartikan sebagai kekuatan jahat yang gaib, atau sering disebut juga Black Magic. Jika pengertian ini yang dimaksud dengan santet, maka dalam fikih sejajar dengan pengertian sihir. Sihir secara bahasa, diartikan sesuatu yang halus dan rumit sebabnya (Mukhtar ash-Shihab: 208 & al-Qomus: 519). Dalam istilah fikih adalah minta tolong pada kekuatan jin/syaitan yang bersifat gaib untuk melakukan suatu perbuatan yang sulit atau tidak bisa dilakukan oleh manusia. Karena kekuatan tersebut bersifat gaib, maka seharusnya kekuatan ini hanya disandarkan pada Allah Swt. Jika manusia memohon kekuatan gaib kepada selain Allah yakni kepada jin, syetan atau lainnya, untuk melakukan suatu perbuatan tertentu dengan sengaja mengabaikan Allah, maka perbuatan itu dapat dikatagorikan sebagai syirik. Syirik adalah dosa terbesar yang tak bisa diampuni (Qs. al-Nisa’: 48).

Para Ulama memiliki pendapat yang berbeda tentang sihir atau santet, ada yang berpendapat jika sihir itu realita dan ada juga yang berargumen hanya sekedar khayalan. Namun mayoritas ulama berpendapat bahwa sihir itu realita dan bukan khayalan. Pendapat ini berdasarkan realitas sihir yang pernah menimpa nabi Muhammad saw dan turun 2 Surat: al-Falaq dan al-Nas atau Mu’awwizatain (dua doa untuk mohon perlindungan). Dimaksudkan untuk meminta perlindungan kepada Allah swt dari kekuatan gaib yang berasal dari kekuatan syaitan dan jin atau manusia yang minta pertolongan dua makhluk gaib tersebut. Oleh sebab itu, dua surat ini banyak kalangan yang meyakini berkhasiat untuk menangkal kekuatan gaib yang berasal dari koalisi bersama jin – manusia.

Pasal RUU KUHP yang menjadi perbincangan adalah: Pasal 293 RUU KUHP; ayat (1) yang berbunyi  “Setiap orang yang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan gaib, memberitahukan, memberikan harapan, menawarkan atau memberikan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya dapat menimbulkan penyakit, kematian, penderitaan mental atau fisik seseorang, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Kategori IV.” Ayat (2) Jika pembuat tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 melakukan perbuatan tersebut untuk mencari keuntungan atau menjadikan sebagai mata pencaharian atau kebiasaan, maka pidananya ditambah dengan sepertiga.”

Dari pasal inilah munculnya pro kontra, yang pro menyatakan bahwa santet adalah realita kejahatan yang meresahkan masyarakat yang harus diatasi dengan hukum. Sebaliknya yang kontra menyatakan bahwa santet adalah takhayul dan tidak masuk akal sehingga tidak perlu diatur dalam RUU KUHP. Bahkan ada pendapat yang berbeda lagi dari pro kontra di atas, yakni beberapa budayawan yang berpendapat bahwa santet adalah budaya yang harus dilestarikan, oleh karena itu tidak perlu dimasukkan dalam RUU-KUHP.

Alasan yang kuat dalam pembuatan RUU KUHP Santet ini yaitu fakta adanya santet di masyarakat sehingga menimbulkan keresahan akibat praktek ilmu hitam tersebut. Yang terjadi adalah kebingungan sosial yang tak berujung, pasalnya pembuktian konkret yang dirasa masih sangat sulit. Contohnya sering ditayangkan dalam acara berita beberapa kasus di suatu daerah yang diyakini masyarakat sekitar sebagai teluh. Telah dijelasakan bahwa korban yang terkena teluh merasakan sakit pada bagian perut tetapi ketika diperiksakan secara medis korban dinyatakan tidak ada masalah pada perut atau organ pencernaannya. Akhirnya keluarga korban berinisiatif untuk membawakan korban ke ahli supranatural yang sering disebut masyarakat “orang pintar”. Baru diketahui bahwa korban tersebut terkena teluh karena ada beberapa biji kawat panjangnya masing-masing 10 cm yang berhasil diambil dari perut korban oleh “orang pintar” tersebut. Memang beberapa kawat tersebut bisa dijadikan bukti, namun yang masih dipertanyakan adalah bagaimana dan siapa pelaku yang memasukkan benda logam tersebut tanpa ada luka yang terlihat sedikitpun pada korban. Hal ini yang menyulitkan untuk membubuhi letak rasionalitasnya dalam hukum.

Indonesia sebagai negara yang terdiri dari berbagai suku dan ras, sihir yang populer dengan istilah santet itu sangat dipercaya dan diyakini dapat digunakan untuk menyakiti orang lain bahkan bisa menghabisi nyawa orang lain (membunuh). Karena keyakinan pada santet dalam masyarakat sudah mendarah daging dan pada kenyataannya telah menimbulkan aksi main hakim sendiri yang membuat orang-orang yang dituduh tukang santet tersebut dibunuh di luar proses pengadilan.

Oleh karena itu dalam rangka untuk mengatasi keresahan masyarakat yang ditimbulkan oleh praktik ilmu hitam yang secara hukum menimbulkan kesulitan dalam pembuktiannya dan untuk mencegah secara dini serta mengakhiri praktik main hakim sendiri yang dilakukan oleh warga masyarakat terhadap seseorang yang dituduh sebagai dukun teluh (santet), kiranya sudah mendesak agar masalah santet ini dimasukkan dalam rancangan KUHP.

Namun rancangan KUHP harus melalui pengujian masyarakat secara umum dan mempertimbangkan berbagai perspektif, setelah mendapatkan masukan dari para pakar Hukum Islam dan para pakar Hukum agar ditemukan solusi teknis pembuktiannya di pengadilan. Memang jika ditilik cara pembuktian di antaranya bisa dilakukan jika seseorang telah menyantet atau tidak, harus dimulai sejak penyelidikan dan penyidikan dengan bantuan saksi ahli di bidang santet. Tuduhan santet pada seseorang akan menjadi lebih kuat, jika penyidik atau hakim mampu membuat tertuduh mengakui perbuatannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s