Tradisi Pengurangan Subsidi BBM

Oleh : Arif Fajar Romadhon

NIM : 12104241001

Ketika kita mendengar kata BBM apa yang ada di benak dan pikiran kita? Tentu saja langsung terbayangkan makna BBM adalah Bahan Bakar Minyak atau kebutuhan energi yang berasal dari tambang minyak bumi. BBM merupakan kebutuhan pokok yang sangat strategis, yang krusial dan sangat mungkin mempengaruhi bahkan menentukan harga kebutuhan pokok sehari-hari. Tidak kita pungkiri bahwasanya hmpir seluruh aktivitas kita juga tidak lepas dari penggunaan atau pengkonsumsian BBM. Misalnya ketika kita mengendarai kendaraan bermotor atu transportasi, kebutuhan keluarga seperti memasak hingga ruang lingkup industri tidak lepas dari Bahan Bakar Minyak.

Harga minyak mentah di pasar internasional selalu meningkat. Sebabnya karena minyak mentah adalah fosil yang tidak terbarui (not renewable). Setiap kali minyak mentah diangkat ke permukaan bumi, persediaan minyak di dalam perut bumi berkurang. Pemakaian (konsumsi) minyak bumi sebagai bahan baku BBM meningkat terus, sehingga permintaan yang meningkat terus berlangsung bersamaan dengan berkurangnya cadangan minyak di dalam perut bumi.

Seperti paparan di atas minyak merupakan komoditas yang sangat penting dan sensitif bagi banyak pihak. Namun ada pihak tertentu yang memanfaatkan situasi dan berperan besar dalam pengaturan harga minyak dunia, yaitu para kapitalis minyak. Seperti yang dituliskan oleh Endang Suryadinata, alumnus Erasmus Universiteit Rotterdam dalam Koran Tempo (7/04/12) bahwa kandungan minyak di mana pun, termasuk di Indonesia sudah sejak dulu menjadi incaran para kapitalis minyak. Undang-Undang Nomor 22/2001 tentang Migas sudah bukan rahasia lagi merupakan produk regulasi yang secara resmi bertentangan dengan Pasal 33 UUD 1945, karena segala hal terkait dengan minyak bukan dimanfaatkan demi kesejahteraan rakyat. Namun semua diserahkan kepada mekanisme pasar, demi kesejahteraan segelintir elite yang tahu seluk-beluk bisnis BBM.

Bahan Bakar Minyak (BBM) pada akhir April kemarin merupakan pokok bahasan yang sangat populer. Dibahas dari tingkat rakyat jelata sampai pada Wakil Rakyat yang terhormat dan Para Pejabat. Harga minyak di Indonesia untuk konsumsi dalam negeri merupakan harga yang tidak sebenarnya, karena dijual DIBAWAH HARGA KEEKONEMIAN, sehingga untuk menutup kekurangan tersebut, maka Pemerintah memberikan SUBSIDI. Padahal tiap tahunnya konsumsi BBM selalu mengalami kenaikan yang signifikan. Tentu subsidi akan terus membengkak dan menyedot APBN, dan mau tak mau pemerintah kembali menaikkan harga BBM (lagi).

Tentu hal ini semakin memperparah kondisi penduduk Indonesia yang berpenghasilan kecil, karena baik langsung maupun tidak langsung, kenaikan harga BBM ini akan menambah beban hidup mereka.  Apa lagi dibeberapa kota dan kabupaten masih banyak perusahaan, buruh dan Pemerintah daerah yang masih bersitegang mengenai  penyesuaian UMR (Upah Minimum Regional) tiap daerah. Selain itu juga banyak terjadinya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) yang tinggi akibat industri yang tidak mampu memenuhi upah pegawai yang tinggi di tengah melambungnya harga BBM. Kebutuhan sehari-hari seperti beras, bawang, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya tak luput dari kenaikan harga, mulai sekitar 10 persen hingga 100 persen. Sungguh angka yang fantastis bukan? Selain berdampak pada faktor harga dasar ternyata kenaikan bisa menimbulkan permasalahan sosial, misalnya bertambahnya jumlah angka kemiskinan di Indonesia, pengangguran semakin meningkat, bahkan bisa menimbulkan kasus perampokan ataupun pencurian dan tidak dipungkiri angka kriminalitas melonjak dahsyat.

Seperti yang kita lihat pemerintahpun berupaya maksimal dengan pemberian BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang bertujuan untuk meringankan beban rakyat akibat kenaikan harga BBM. Di mata lawan politik pemerintah yang berkuasa seperti dilansir di beberapa media elektronik, maupun media cetak, setiap  menjelang pemilu atau akhir dari masa jabatan pemerintah, mereka (pemerintah yang berkuasa) memanfaatkan moment menjelang pemilu ini untuk memberikan bantuan itu guna mencari simpatisan rakyat miskin. Yang di mana rakyat miskin senang karena di beri bantuan secara instant tetapi rakyat tidak sadar kalau mereka itu dimanfaatkan secara suara dan mereka belum berfikir jangka panjang ke depannya apakah mereka hanya akan jadi pemasok suara saja yang belum jelas kesejahteraan mereka.

Kita tetap harus positif thinking dengan yang dilakukan pemerintah sekarang. Jika dirasa belum mampu menyelesaikan masalah secara maksimal, sudah saatnya kita memutar otak bagaimana langkah selanjutnya untuk menyelesaikannya dan dimulai dari diri kita sendiri. Ada beberapa hal yang harus kita upayakan misalnya menggunakan transportasi umum massal yang sudah disediakan, menggunakan sepeda setiap akan bepergian yang dekat disamping irit BBM juga ramah lingkungan dan membuat badan kita sehat. Penggunaan BBM yang tidak berlebihan. Tidak itu saja di sekitar kita banyak juga tumbuh-tumbuhan yang bisa di jadikan biodiesel yang ramah lingkungan yaitu pohon Jarak (Jawa). Pohon jarak jika diolah akan menghasilkan sejenis bahan bakar cair yang telah banyak diujicobakan beberapa peneliti dan hasilnya tidak kalah dengan BBM murni. Kita pasti tahu sampah di sekitar kita yang sulit diuraikan adalah sampah anorganik seperti kaleng, logam, plastik dan sebagainya. Ternyata sampah plastik yang sering menimbulkan pencemaran di lingkungan kita bisa juga didaur ulang dengan metode penyulingan. Bahan baku plastik yaitu minyak bumi dengan disuling kita bisa mengembalikannya menjadi minyak cair dan bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari. Namun ada beberapa usul juga dari saudara-saudara kita jika seandainya seluruh masyarakat Indonesia dimulai dari kita kompak “Sehari Tanpa BBM” mungkin ini akan lebih membiasakan kita untuk tidak ketergantungan sepenuhnya pada BBM dan dialihkan dengan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Semua itu butuh proses untuk melaksanakan secara maksimal dan butuh persiapan yang matang juga. Tidak ada kata mustahil jika kita benar-benar ingin menghemat konsumsi BBM kita dan menekan anggaran subsidi kita agar tidak jebol lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s