Mempertanyakan Kejelasan Hukum Pemerkosaan

Oleh : Desi Kusumah Dianti

NIM : 12104241008

Pada saat kita berbicara mengenai perkosaan, hal apakah yang muncul dibenak anda? Perempuan dengan tindakan kekerasan atau bahkan kekerasan dengan unsur seksualitas? Perempuan dalam situasi apapun tetap rentan untuk menjadi korban dari struktur sosial, budaya, maupun politik yang dapat menindasnya. Perkosaan adalah suatu usaha untuk melampiaskan nafsu seksual yang dilakukan seorang laki-laki terhadap perempuan dengan cara yang dinilai melanggar menurut moral dan hukum.  Kurangnya stabilitas keamanan di tengah-tengah masyarakat kita menjadi momok yang sangat menakutkan dikalangan perempuan, posisi perempuan yang lemah membuat keberdayaan mereka untuk melindungi diri juga kurang. Oleh karena itu, perempuan menjadi sasaran empuk bagi pelaku kejahatan seks untuk mencuri, memaksa, merampas, bahkan melampiaskan nafsu seksualnya. Banyak kerugian yang mereka dapatkan, baik perlakuan fisik yang didapatkan hingga berdampak pada tekanan psikologis yang dialaminya.

Banyak diantara kaum perempuan yang mendapatkan perlakuan bejat dari pelaku perkosaan, tak hanya terjadi di tempat-tempat seperti halnya terminal, gerbong kereta, dan lainnya, bahkan di institusi pendidikanpun telah marak terjadi. Seperti kasus yang terjadi pada seorang siswi yang masih duduk dibangku kelas 4 sekolah dasar di Pekanbaru, dia menjadi koban kejahatan seksual oleh gurunya sendiri, bahkan pelaku sudah lima kali melakukan percobaan pemerkosaan terhadap korban. Betapa tidak seorang guru yang seharusnya menjadi pelindung malah tega memperkosa muridnya sendiri, tanpa memikirkan esensi bagaimana keadaan korban setelah mendapat perlakuan yang demikian.

Menanggapi kasus tersebut, muncul beberapa anggapan dari berbagai pihak tentang maraknya aksi tersebut mengapa bisa terjadinya hal demikian. Ada yang menyebutkan bahwa perempuan dianggap lemah yang membuat keberdayaan mereka untuk melindungi diri juga kurang, bahkan ada yang menyebutkan bahwa yang menjadi penyebab terjadinya perkosaan tak lain adalah perempuan itu sendiri dengan memakai rok mini, berdandan menor, dan lain sebagainya. Anggapan-anggapan tersebut dapat pula dibenarkan, didukung dengan situasi yang kondusif dari pelaku sehingga korban mendapatkan perlakuan yang tidak selayaknya mereka dapatkan.

Lantas siapa yang harus bertanggung jawab dalam hal ini dan hukuman apa yang selayaknya diberikan terhadap sang pelaku perkosaan yang telah melakukan perbuatan tidak senonoh itu? Seolah–olah hukum memandang sebelah mata kejadian tersebut dan menganggap itu tergolong pada tindakan kriminalitas yang disetarakan dengan pembunuhan atau lainnya, bahkan jika kita dapat melihat dari kaca mata etika dan moralitas perkosaan memiliki derajat kekejaman yang tinggi dibandingkan pembunuhan. Sebab, korban akan menanggung beban dari dampak perkosaan itu disepanjang hidup mereka. Logikanya bahwa korban pembunuhan akan berhenti hidup sampai disana tanpa harus menanngung beban apapun. Seharusnya para pelaku yang tidak senonoh itu dihukum dengan hukuman yang berat mengingat mereka telah melakukan hal yang sangat tidak manusiawi dan mereka seharusnya  mendapat hukuman yang selayaknya didapatkan sesuai dengan tingkat kekejaman yang ada.

Namun hal itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam proses hukum, perkosaan dikategorikan sebagai tindak kriminalitas dimana dalam proses hukumnya harus menyertakan barang bukti dan saksi. Hal ini akan menjadi sulit mengingat bahwa perkosaan tak selalu ada saksi yang melihat, sehingga terkadang pihaknya sering kali mendapatkan perlakuan tidak adil di mata hukum itu sendiri.

Andai saja negara ini memiliki stabilitas keamanan dan hukum yang memadai, serta kuatnya peran masyarakat dan pemerintah untuk memerangi aksi kejahatan tersebut, maka kita akan mampu menekan tindak kejahatan yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi mereka kaum perempuan. Namun kenyataannya hal ini masih menjadi bayang-bayang semu atau bahkan masih jauh dari harapan kita.  Tingkat kesadaran pelaku yang masih minim, adanya tuntutan sosial yang memaksa, kebutuhan seks yang belum terpenuhi, kurangnya stabilitas keamanan di lingkungan masyarakat serta keadilan hukum terhadap korban masih jauh dari apa yang seharusnya mereka dapatkan.

Pemerintah dan masyarakat harus lebih tegas dalam memerangi masalah tersebut karena bagaimanapun hal itu telah melanggar norma-norma serta membunuh masa depan korban untuk mendapatkan kesempatan emas melalui keadaan fisik dan psikologis yang baik. Meraka semua memerlukan perlindungan yang kuat agar terhindar dari perlakuan tidak senonoh seperti itu, sebab mereka adalah manusia yang berhak mendapatkan perlakuan manusiawi.

 

Referensi

Sulistyaningsih, Ekandari dan Faturochman. 2002. Dampak Sosial Psikologis Perkosaan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Tanjung Banda Harunddin. 2007. ”Bejat, Guru Olah Raga Perkosa Muridnya”. Diakses dari www.okezone.com pada 21 Mei 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s