Premanisme Di Kalangan Intelektual

Oleh : Sailah Ribha

NIM : 12104241031

Premanisme merupakan istilah bahasa Belanda, vrijman yang berarti orang bebas, merdeka. Dan, ‘isme’ menunjukkan aliran atau paham. Sekarang ini, istilah premanisme merupakan sebutan pejoratif yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang untuk mendapatkan penghasilan dengan cara kekerasan, seperti pemerasan, penjambretan, perampokan dan lain sebagainya. Menurut Kartodirdjo (1984), bandit sosial (preman) adalah sebagai suatu struktur tipe kepemimpinan sosial yang secara wajar muncul dalam celah-celah ruang sosial di mana penguasa tidak dapat melakukan pengawasan.

Praktik premanisme di Indonesia marak terjadi di bidang politik, ekonomi, sosial, hankam, contohnya di kalangan rakyat kecil seperti sopir – sopir yang dimintai pungutan liar dengan mengatasnamakan suatu organisasi ataupun dengan alasan keamanan dan terkadang memiliki backing orang – orang berseragam yang sebagai aparat negara, kegiatan tersebut sangatlah menghambat kelancaran perekonomian daerah, adanya anggota geng motor yang berperilaku arogan, merusak ketertiban merupakan tindakan premanisme dan kalangan pejabat negara ( kalangan intelektual ) terutama di bidang politik yang saat bermusyawarah mereka sering bertindak arogan jika tidak sependapat dengan usulan pihak lain, cara mereka dalam pemilu mendapatkan suara terbanyak dengan cara memberikan uang terhadap pendukungnya, menjatuhkan lawan dengan teror jelas merupakan tindakan premanisme, adanya kasus suap juga termasuk premanisme karena terjadi kesengajaan untuk merugikan seseorang maupun merugikan negara, pemerasan terhadap wajib pajak juga merupakan praktik premanisme yang terjadi di Indonesia, seseorang yang sudah membayar pajak sesuai dengan yang ditentukan tetapi pihak lain melakukan pemerasan seolah – olah pembayaran wajib pajak yang dilakukan bermasalah sehingga harus membayar lebih.

Faktor yang menjadi pemicu munculnya premanisme adalah karena lemahnya supremasi hukum. Hukum tidak ditempatkan pada posisi tertinggi sebagaimana mestinya, sehingga banyak orang berani melanggar atau bahkan membuat hukum dengan cara mereka sendiri. Faktor penyebab terjadinya premanisme dalam politik yaitu ilmu politik yang asli tidak dapat berjalan dengan benar karena orang – orang yang berada didalamnya tidak memiliki aturan dan brutal padahal pejabat Negara itu jelaslah orang intelektual, kemudian adanya persaingan antara satu dan yang lainnya untuk menjatuhkan lawan mereka menggunakan cara premanisme seperti contohnya dalam pemilu terkadang pihak yang satu menyewa jasa preman untuk membuat kerusuhan kepada pihak lawan agar pihak lawan merasa tidak aman dengan tujuan mengurangi persaingan. Dalam Hankam sendiri premanisme terjadi karena adanya pihak tertentu yang menginginkan keuntungan lebih dari pihak yang lemah dengan demikian kesejahteraan rakyat menjadi tidak merata seperti halnya masih adanya praktik perbudakan jelaslah memprihatinkan melihat  Negara Indonesia yang sudah merdeka tetapi belum sepenuhnya warga negaranya merdeka.

Premanisme dalam politik harus diberantas karena jika seorang tokoh yang harusnya menjadi panutan malah menggunakan kekerasan dalam menjalankan tugasnya bagaimana dengan masyarakatnya nanti dan akan berimbas dalam pertahanan dan keamanan Negara secara tidak langsung karena aparat yang menjadi pelindung masyarakat seakan – akan tidak berfungsi untuk menjaga pertahanan dan keamanan wilayah ,Oleh sebab itu kita haruslah berpedoman dengan ideologi bangsa sesuai sila ke 4 pancasila yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan disitu sangatlah jelas bahwa seharusnya apapun permasalahan itu diselesaikan bermusyawarah untuk mencapai mufakat bukan dengan kekerasan.Kita hidup di negara hukum bukan negara premanisme . Jika dibiarkan berlarut – larut dikhawatirkan kekuasaan Negara dipengaruhi oleh kekerasan dan pada akhirnya negara demokrasi tidak berjalan dengan semestinya pemerintahannya arogan apalagi masyarakatnya akan kehilangan nilai moral .

Premanisme sekarang ini merupakan bagian dari struktur kelas di tengah-tengah masyarakat yang keadaannya tidak bisa dipungkiri. Perkembangan preman adalah gejala sosial dimana yang seharusnya ada sosok yang ditakuti oleh para preman yang seharusnya adalah aparat Negara ,akan tetapi pada kenyataannya saat ini ada aparat Negara tertentu yang malah melindungi premanisme.Di dunia politik cara premanisme terkadang sering digunakan untuk menyelesaikan permasalahan akibat ketidak sepahaman, untuk melindungi diri dari hal yang membahayakan karena ancaman pihak lain meskipun Negara juga memiliki aparat hukum. Harus ada ketegasan bertindak, jangan premannya saja yang diberantas, tapi organisasinya juga harus diberantas karena polisi nantinya hanya akan jadi pemadam kebakaran jika pemberantasan premanisme hanya dilakukan sepotong – sepotong. Dalam hal ini polisi membutuhkan kerjasama dengan orang – orang politik agar pemberantasan preman tidak hanya dilapisan bawah tetapi juga aktor intelektualnya.

Premanisme dalam politik dan hankam berkembang di Indonesia sudah sejak lama padahal premanisme politik telah mengacaukan jagat kehidupan kita .Mulai dari awal pembentukan pemerintahan dengan pemilihan umum politik uang menguasai dan melahirkan masyarakat yang cenderung memilih tidak perduli dengan kecerdasan seorang politisi yang penting adanya politisi yang terdaftar dalam partai politik dan uang sebagai iming – iming yang diberikan kepada masyarakat, ditambah dengan penyelenggaraan  Pemilu yang kurang jujur dan adil seperti selama ini,  lengkap sudah faktor untuk melahirkan premanisme  politik.

Kemajuan bangsa akan terealisasikan berawal dari kesadaran diri sendiri untuk tidak menanamkan jiwa premanisme karena segala sesuatu itu pasti ada pemecahan masalahnya tanpa adanya kekerasan, perlu adanya kesadaran para pejabat Negara bahwa mereka adalah seorang yang intelektual yang harusnya menjadi contoh untuk rakyatnya dan jika mereka mendukung premanisme harusnya mereka berfikir dari segi moral maupun etika tugas mereka tidak dapat berjalan dengan baik dan akan merugikan semua kalangan masyarakat. Masyarakat haruslah lebih jeli menentukan seorang pemimpin yang cerdas dan dapat menjadi panutan bagi rakyatnya .Seseorang dikatakan intelektual karena teliti dalam perhitungan, menimbang sebuah permasalahan ,serta melakukan tarik ulur maksudnya pendidikan mereka yang tinggi dan memiliki ilmu pengetahuan yang luas akan berpengaruh terhadap pembawaan diri, pola pikir mereka yang membantu mengurangi emosional diri untuk dapat menyesuaikan diri dengan keadaan agar tidak bertindak melanggar aturan .

Jumlah premanisme seharusnya dapat ditekan .Akan tetapi menggunakan cara yang lebih manusiawi tidak bisa asal tembak, karena akan melanggar HAM dan akan dianggap sebagai premanisme baru. Salah satu caranya adalah dengan mengoptimalkan kembali fungsi dan peran intelijen.

Pada masa Orde Baru, intelijen begitu kuat dan ditakuti sehingga premanisme dalam politik dan hankam dapat diminimalisir karena fungsi intelijen saat itu juga sebagai alat kekuasaan untuk memata-matai gerakan politik yang berbeda haluan. Pasca bergulirnya reformasi, sudah saatnya intelijen Indonesia kembali kepada fungsi utama yaitu sebagai peringatan dini (early warning) dan pendeteksian dini (early detection). Di lapangan, intelijen bertugas sebagai pencari informasi (information seekers) dan pengumpul data (data collector), sehingga jika ada aktivitas yang berpotensi mengganggu kestabilan negara, dapat segera diatasi. Dalam hal ini, Badan Intelijen Negara (BIN) ataupun Intelijen Keamanan, yakni Intelkam Polri harus ikut andil dan bersinergi dalam menstabilkan atmosfer keamanan negara.

Secara humanisme, kaum preman pada dasarnya sama dengan masyarakat pada umumnya. Mereka memiliki rasa malu, bosan, takut, dan ada pula keinginan untuk menjadi orang yang lebih baik, baik moril maupun materiil. Oleh karena itu, upaya penanggulangan premanisme dalam politik dan hankam tidak cukup hanya dengan penegakkan hukum berupa ancaman sanksi pidana, namun juga dengan pemberian bimbingan konseling (BK).

Menanamkan pemikiran positif kepada individu agar tidak brutal dalam mengatasi permasalahan ,bila perlu diberikan nasihat yang baik sesuai ajaran agama karena sekeras apapun hati seseorang ada titik dimana dia akan luluh dengan sebuah nasihat yang baik untuk dirinya. Menjadikan individu yang mau menerima diri dengan cara menerima emosional diri tanpa mengganggu keberadaan orang lain.

Bagaimanapun praktik premanisme merupakan salah satu gejala sosial akibat lemahnya supremasi hukum dan ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah. Penghapusan praktik premanisme tidak cukup dengan cara pemberian sanksi pidana, namun juga dengan cara pemberian bimbingan konseling (BK). Dengan demikian, penghapusan premanisme tidak hanya perlu tegas tetapi juga bijaksana.

Sumber:

http://hankam.kompasiana.com/2013/04/08/preman-sejati-549303.html

http://hankam.kompasiana.com/2013/04/06/kopassus-membunuh-preman-atau-membunuh-mantan-preman-napi-543549.html

http://www.mardetymardinsyah.com/2012/03/13/ruu-pemilu-dan-premanisme-politik/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s