Bidikmisi, Mempermudah atau Justru Mempersulit Mahasiswa?

Oleh : Sayu Made Roswita palupi

NIM : 12104241006

Belakangan ini biaya hidup menjadi melambung, berimbas kepada rakyat kecil yang berpendaptan rendah. Mereka harus memutar otak dan bekerja lebih giat lagi untuk tetap bertahan hidup di kehidupan yang keras seperti sekarang ini, serta untuk tetap bisa memberi makanan untuk perut mereka yang menjerit-jerit tak tahu malu. Beban yang dirasakan mereka tak henti-hetinya mendera, tidak hanya dari bahan pokok yang setiap saat merangkak naik, bahan bakar minyak bahkan hingga biaya pendidikan yang tak memberikan toleransi kepada rakyat kecil untuk tetap bisa kuliah.

Bayang-bayang perguruan tinggi pun seakan harus terhapus dari benaknnya, untuk makan saja harus bekerja dengan susah payah apalagi harus membiayai uang perkuliahan yang dari tahun ketahun terus meningkat. Banyak calon-calon mahasiswa yang seharusnya mampu secara akademik serta memiliki prestasi tetapi tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi karena masalah ekonomi yang melilit tak mau melepaskan mereka.

Pendidikan dan uang, dua faktor penting yang selalu menghantui setiap insan. Tanpa uang tidak akan bisa merasakan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi  dan tanpa pendidikan tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak untuk mendapatkan uang.

Pendidikan di perguruan tinggi bagi masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi bukan lagi menjadi hal yang mustahil untuk dirasakan. Pemerintah sudah mencanangkan program Bidikmisi sejak tahun 2010 untuk meringankan beban masyarakat yang kurang mampu yang ingin merasakan pendidikan di perguruan tinggi. Hingga saat ini peminat untuk mendapatkan beasiswa tersebut sangat banyak. Bidikmisi merupakan program pemberian bantuan biaya pendidikan yang dicanangkan oleh Direktorat Jendral Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang merupakan program 100 Hari Kerja Menteri Pendidikan Nasional pada Tahun 2010.

Sasaran dari program bidikmisi merupakan mahasiswa yang telah lolos dari seleksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi  yang telah memenuhi persyaratan dan dinyatakan layak untuk menerima bantuan biaya pendidikan tersebut, tetapi tidak semua perguruan tinggi mendapatkan bantuan dari pemerintah hanya perguruan tinggi yang berada di bawah naungan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementrian Agama. Program ini mempunyai misi untuk menghidupkan harapan bagi masyarakat yang kurang mampu dan berpotensi akademik memadai untuk dapat menempuh pendidikan sampai kejenjang perguruan tinggi.

Keadaan sedikit berubah mulai tahun ini, calon mahasiswa perguruan tinggi negeri di bawah pengelolaan Kementerian Agama tidak akan memperoleh alokasi bantuan biaya pendidikan bagi mahasiswa miskin lagi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Data Kemdikbud, ada tujuh PTN di bawah pengelolaan Kementerian Agama. Ketujuh PTN itu adalah UIN Sultan Syarief Kasim, UIN Syarif Hidayatullah, UIN Sunan Gunung Djati, UIN Sunan Kalijaga, IAIN Sunan Ampel, UIN Maulana Malik Ibrahim, dan UIN Alaudin. Mahasiswa di PTN itu yang telah memperoleh Bidikmisi sebelumnya tetap diberi Bidikmisi dari Kemdikbud. Ketentuan baru ini hanya berlaku bagi calon mahasiswa baru tahun ini. (http://www.Kompas.com)

Alur penerimaan mahasiswa Bidikmisi terbilang rumit, dari pengajuan siswa dari pihak sekolah yang tidak semua siswa mendapat rekomendasi tersebut. Hanya siswa yang memiliki prestasi yang bagus serta dianggap tidak mampu secara ekonomi yang mendapat rekomendasi tersebut. Siswa yang benar-benar telah dinyatakan lulus seleksi sebagai penerima bantuan biaya pendidikan tersebut adalah siswa yang telah lulus selesksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi dilanjutkan dengan verifikasi data apakah data yang diajukan sesuai dengan data yang berada di lapangan. Jika semua data sesuai dan siswa tersebut dinyatakan lulus, maka siswa tersebut resmi mendapatkan bantuan biaya pendidikan yang telah dijanjikan oleh pemerintah. Namun dalam prakteknya banyak pihak sekolah merekomendasikan siswa yang memiliki latar belakang keluarga yang mampu, bahkan anak dari kepala sekolah pun bisa mendapatkan rekomendasi tersebut. Hal ini perlu diperhatikan, sangat disayangkan apabila bantuan ini tidak tepat sasaran karena akan ada banyak pihak yang dirugikan. Seharusnya, pihak sekolah bisa lebih  real dalam pengajuan data siswa sebagai calon penerima bidikmisi karena masih banyak siswa kurang mampu di Indonesia yang sesungguhnya memiliki prestasi tapi tidak melanjutkan kuliah karena terbentur oleh masalah biaya pendidikan yang mahal.

Mahasiswa bidikmisi mendapatkan sesungguhnya bantuan sebesar Rp1.000.000,00/bulan. Rp600.000,00/bulan yang ditransfer melalui rekening yang telah ditetapkan untuk memenuhi biaya kehidupan sehari-hari. Serta Rp400.000,00/bulan masuk ke universitas yang bersangkutan untuk pembiayaan perkuliahan mahasiswa. Penyaluran dana bidikmisi sempat tersendat akibat dana yang ditahan oleh DPR, sehingga menyebabkan pihak universitas yang bersangkutan harus menalangi uang bidikmisi yang harus diserahkan pada mahasiswa. Banyak siswa yang mengeluhkan keterlambatan dana tersebut karena kebutuhan sehari-hari mereka tidak bisa terus menunggu. Keadaan ini memaksa dari sebagian mereka yang tidak lagi mendapat kiriman dari orang tua harus mencari biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan cara bekerja paruh waktu. Kejadian tersendatnya uang bidikmisi tidak berlangsung lama namun tetap saja membuat pihak-pihak yang bersangkutan menjadi kesulitan. Mahasiswa bidikmisi sudah merasa sedikit lega karena untuk saat ini penyaluran beasiswa bidikmisi ini sudah tidak tersendat-sendat lagi.

Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan lagi supaya penyaluran dana bidikmisi tidak tersendat-sendat lagi karena akan mempengaruhi mahasiswa dalam berprestasi. Mendapat beasiswa tentu menjadi motivasi tersendiri dalam diri mahasiswa. Bagi mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi, ini dijadikan acuan untuk tekun belajar dan mencatat prestasi. Mereka diharapkan menjadi pemimpin yang baik ke depan nanti dan mampu merubah masa depan Indonesia menjadi Negara yang tidak dipandang sebelah mata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s