Apa Kabar Pendidikan di Pelosok Negeri ?

Oleh Pembayun Wresti Woro Ardhani

NIM 1210424130

Pembangunan pendidikan merupakan salah satu prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional. Pembangunan pendidikan sangat penting karena perannya yang signifikan dalam mencapai kemajuan di berbagai bidang kehidupan: sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Karena itu, pemerintah berkewajiban untuk memenuhi hak setiap warga negara dalam memperoleh layanan pendidikan yang layak guna meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia.

Pendidikan di Indonesia di zaman modern ini sudah semakin berkembang, dari gedung yang sudah bertingkat sampai fasilitas-fasilitas yang serba modern. Namun, keadaan ini sangat berbeda dengan keadaan pendidikan yang ada di pelosok negeri. Hal ini didukung dengan fakta yang ada di lapangan adanya sekolah-sekolah di pelosok negeri yang masih belum sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dari sudut sarana prasarana, tenaga pengajar, kurikulum, aksesbilitas, bahkan kualitas anak didik itu sendiri.

Siswa-siswi diperkotaan bisa dengan mudah menempuh jarak menuju ke sekolah dengan berbagai sarana transportasi yang tersedia di daerah perkotaan. Selain itu mereka juga tidak perlu bersusah payah untuk mencari biaya sekolah karena orang tua mereka sudah mampu mencarikan biaya untuk sekolah. Baca lebih lanjut

“Membudayanya Sistem Kebut Semalam Di Kalangan Pelajar”

Oleh : Ely Fauziyah

NIM : 12104241003

eli

Sistem Kebut Semalam atau biasa disebut SKS merupakan salah satu metode belajar yang akhir-akhir ini sudah membudaya di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh semaki canggihnya jejaring sosial seperti facebook dan twitter sehingga hampir seluruh peserta didik menggunakan metode sistem kebut semalam ini. Mungkin memang benar pendapat mereka, bahwa metode SKS terutama ketika hendak ujian itu menjadikan mereka ingat saat mengerjakan soal ujian. Namun, itu hanya bersifat sementara. Karena di sini yang mereka cari bukanlah kemanfaatan dari ilmu tersebut, tapi nilai yang diutamakan mereka.

Pelajaran sebenarnya mempunyai banyak manfaat apabila peserta didik mau mencarinya. Dalam proses memperoleh kemanfaatan tersebut, seharusnya peserta didik tidak menggunakan metode SKS ini, melainkan dengan mencicilnya. Namun pada kenyataannya, mereka cenderung malas untuk belajar secara bertahap atau berangsur-angsur. Padahal, belajar secara bengangsur-angsur itu memudahkan mereka mengingat materi pelajaran. Dalam hal ini, metode SKS hanya akan membuat pikiran menjadi pusing, karena harus menghafalkan semua materi sekaligus. Akhir-akhir ini yang banyak terjadi adalah ketika mengisi waktu luangnya, peserta didik cederung lebih suka online dibandingkan dengan belajar ataupun membaca. Baca lebih lanjut

Bangun Integritas Moral, Cegah Premanisme Di Sekolah Dasar!

Oleh : Ayu Rochanah Choirul Ummah
NIM : 12104241034

Moral anak bangsa ini telah rusak. Terbukti dengan banyaknya kasus premanisme di lembaga pendidikan (termasuk Sekolah Dasar) yang diberitakan secara luas di media massa, baik cetak maupun elektronik. Premanisme berasal dari bahasa Belanda vrijman = orang bebas dan isme = aliran. Premanisme berarti aliran dari orang-orang bebas yang merugikan orang lain. Tindakan yang merugikan orang lain demi keuntungan pribadi merupakan kategori premanisme.

Kasus premanisme di Sekolah Dasar (SD) biasanya berupa pemerasan uang saku dan bullying, dilakukan oleh senior terhadap junior maupun antarteman yang menyebabkan cedera hingga kematian. Jika hal tesebut dibiarkan terus-menerus terjadi, maka mental anak bangsa kita akan berubah menjadi mental preman yang tidak bermoral. Oleh karena itu, integritas moral yang tertanam dalam diri setiap siswa sangatlah penting adanya.

Integritas merupakan kualitas bersikap jujur ​​dan selalu memiliki prinsip-prinsip moral yang tinggi. Integritas adalah tanpa topeng, bertindak sesuai dengan yang diucapkan, konsisten antara ucapan dan perbuatan, serta sikap dan tindakan. Sedangkan, moral menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Melalui pendidikan karakter di SD, integritas moral dapat dibangun kembali untuk mengembalikan moral anak bangsa Indonesia yang luhur. A Wise Word for All Student merupakan salah satu teknik belajar yang dapat membangun integritas moral di SD. Baca lebih lanjut

“Pro Kontra Ujian Nasional”

Oleh : Antonius Setiaji Hardono

NIM : 12104241038

Ujian nasional, seakan menjadi musuh paling besar dikalangan pelajar Indonesia. Mengapa demikian? Fakta membuktikan, disaat siswa-siswi akan menghadapi Ujian Nasional, bukan rasa semangat dan termotivasi untuk lebih giat belajar, tetapi malah rasa takut yang luar biasa dirasakan para siswa. Menurut saya, depresi para siswa tersebut dikarenakan nilai Ujian Nasional dijadikan sebagai syarat utama kelulusan, dan nilai tersebut siswa harus mencapai standar nilai kelulusan sesuai keputusan Kementrian Pendidikan. Pemerintah berharap, dengan adanya Ujian Nasional beserta standarisasi kelulusannya, Indonesia mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas baik. Selain itu pemerintah berharap bisa meningkatkan daya saing dengan negara lain sehingga Indonesia bisa menyaingi negara-negara maju. Harapan-harapan pemerintah yang diwujudkan dengan pengadaan ujian nasional beserta standarisasi kelulusannya tersebut dipandang negatif oleh sebagian besar siswa dan masyarakat umum. Seperti yang kita ketahui bersama, ujian nasional berjalan selama 3 hari yang meliputi 3 mata pelajaran utama untuk tingkat SD, 4 hari dengan 4 mata pelajaran utama di tingkat SMP, 3 hari dengan 3 mata pelajaran utama ditingkat SMK, dan 4 hari dengan 6 mata pelajaran utama di tingkat SMA. Dengan demikian, perjalanan sekolah para siswa tersebut ditentukan dengan sekian hari saja. Baca lebih lanjut

Pendidikan Indonesia Perlu Perubahan!

Oleh : Amellia Riani

NIM : 12104241040

Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia tentu sangat pelik dan tidak ada habisnya. Pendidikan di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Masalah terus bermunculan baik dari pihak pemerintah, pendidik, dan peserta didik. Misalnya saja masalah pemerataan pendidikan di Indonesia, banyak anak-anak di pelosok negeri sana tidak mengenal pendidikan. Di sisi lain, mereka yang berpendidikan justru mulai meninggalkan nilai-nilai moral. Misalnya saja, tawuran antar pelajar, budaya mencontek yang merajalela di kalangan peserta didik, bahkan di kalangan pendidik. Secara tidak langsung budaya semacam ini adalah awal dari kerusakan bangsa. Bukankah pendidikan adalah membimbing manusia ke arah yang lebih baik? Pendidikan yang harusnya mampu menjawab tantangan jaman dan melestarikan nilai-nilai budaya sudah disalahartikan. Sebenarnya apa yang salah dengan pendidikan Indonesia? Pendidikan Indonesia memerlukan perubahan.

Pemerintah harusnya lebih jeli dalam membuat perubahan yang berarti bagi pendidikan di Indonesia, yakni dengan lebih dahulu memprioritaskan kompetensi profesional/kualitas guru sebelum membuat kebijakan yang lain misalnya merubah kurikulum, membubarkan sekolah RSBI dan sebagainya. Apapun kurikulumnya, sekolah RSBI atau bukan, jika tenaga pendidiknya adalah guru-guru profesional maka pendidikan Indonesia mampu mengalami kemajuan. Guru adalah kunci keberhasilan utama dalam pembelajaran, tidak hanya memberikan pengetahuan saja, melainkan guru juga harus memberikan keteladanan bagi siswanya. Anak bangsa kurang akan tokoh atau sosok idola yang selayaknya ditiru. Setidaknya pendidikan khususnya tenaga pendidik mampu menjadi sosok idola dan inspirasi bagi peserta didiknya. Baca lebih lanjut