ABORSI BUKAN SOLUSI

Oleh : Mutiara Harlina

NIM : 12104241005

Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Guttmacher Institute menyatakan bahwa aborsi paling banyak dilakukan oleh golongan perempuan yang berumur 20 sampai 29 tahun. Interval umur tersebut dapat digolongkan dalam rentang umur yang masih muda bagi seorang perempuan. Tidak dapat dipungkiri lagi; jika seorang perempuan muda mendapati dirinya hamil padahal dia belum menikah, sangat mungkin baginya untuk menjadikan aborsi sebagai penyelesaian atas kehamilan yang tidak ia harapkan.

Bagaimana bisa?

Kehamilan yang tidak diharapkan dapat disebabkan oleh kehamilan di luar nikah yang terjadi pada pemudi. Sedangkan untuk kehamilan di luar nikah dapat disebabkan oleh berkembangnya budaya seks bebas pada orang-orang muda.

Berkembangnya budaya seks bebas pada orang-orang muda dapat dipicu oleh beberapa hal. Pertama: pengawasan yang kurang dari orang tua. Secara umum, keluarga – dalam hal ini orang tua – adalah lembaga sosial primer dalam masyarakat yang membentuk kepribadian generasi muda. Jika orang tua tidak dapat melaksanakan tugas dan perannya dengan baik, maka akan terdapat masalah dalam perkembangan kaula muda. Pemuda dan pemudi memerlukan pendidikan tentang seks dari orang tua, sekaligus pengawasan dan penjagaan. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak orang tua yang tidak melaksanakan tugas dan peran ini dengan baik, sehingga suatu hal yang “wajar” jika kemudian orang tua harus menanggung kesalahan anaknya. Kedua, konsepsi yang belum tepat mengenai seks pada masyarakat – terlebih pada kaula muda. Bahasan mengenai seks masih dianggap tabu oleh budaya masyarakat saat ini sehingga informasi-informasi yang sebenarnya penting untuk disampaikan akhirnya tidak dapat tersampaikan. Masyarakat memandang seks sebagai suatu hal yang sangat privasi dan tidak patut dibicarakan secara umum, bahkan termasuk pendidikan seks. Padahal faktanya, bagi seorang kaula muda yang sedang bertumbuh dan berkembang secara fisik dan psikologis dengan adanya hormon-hormon seksual yang terus bergejolak, ia sangat membutuhkan pendidikan dan informasi yang tepat mengenai seks. Jika hal tersebut tidak difasilitasi, maka ia akan mencari dari sumber-sumber yang tidak tepat. Ketiga, peran pemerintah yang kurang juga memberi dampak positif bagi berkembangnya budaya seks bebas pada kaula muda. Peran pemerintah ini terlihat dalam maraknya pertumbuhan tayangan-tayangan porno di situs internet. Dengan kemudahan akses internet tanpa adanya pengekangan secara legal dari pemerintah terhadap tayangan-tayangan porno, maka kaula muda dapat dengan sangat mudah mengaksesnya. Ketika tayangan-tayangan tersebut dinikmati oleh para kaula muda, pasti selanjutnya akan timbul keinginan untuk melakukannya dan remaja akan menyalurkan nafsu-nafsu tersebut pada seks bebas. Baca lebih lanjut

Iklan