Ada Apakah Antara TNI dengan Polisi?

Oleh : Anisah

NIM : 12104241013

Peristiwa antara TNI dengan kepolisian merupakan persoalan jangka pendek dan jangka panjang. Penyerangan TNI dengan kepolisian bukan peristiwa yang pertama  melainkan berkali-kali terjadi.

Dalam kasus Martapura, apa yang dilakukan kepolisian dengan penembakan langsung itu cara militer. Kasus tersebut menurut saya harus diselesaikan secara hukum, tetapi solidaritas corps di TNI yang berlebihan itu juga tidak baik, apalagi diperlihatkan ke lembaga lain.

Pandangan warga terhadap konflik tersebut yaitu kurang baik karena polisi itu seharusnya mengayomi masyarakat tetapi malah justru polisi sendiri yang mencontohkan yang tidak sesuai dengan profesinya. Contoh hal kecil saja, Menurut saya pribadi, polisi zaman sekarang itu kurang. Kurang dalam arti pengamanannya. Pernah terjadi kasus didesa saya, dalam orang hajatan biasanya ada tanggapan atau tontonan misalnya organ.Kebanyakan anak remaja itu pesta meminum minuman yang memabukkan, harusnya sebagai contoh dimasyarakat, polisi meraziah minuman dan membuangnya,tetapi malah polisi itu juga ikut-ikutan minum. Apakah itu yang dinamakan contoh dimasyarakat?  Polisi seharusnya mengayomi masyarakatnya supaya masyarakatnya bisa tertib dan aman. Baca lebih lanjut

Iklan

“Pro Kontra Ujian Nasional”

Oleh : Antonius Setiaji Hardono

NIM : 12104241038

Ujian nasional, seakan menjadi musuh paling besar dikalangan pelajar Indonesia. Mengapa demikian? Fakta membuktikan, disaat siswa-siswi akan menghadapi Ujian Nasional, bukan rasa semangat dan termotivasi untuk lebih giat belajar, tetapi malah rasa takut yang luar biasa dirasakan para siswa. Menurut saya, depresi para siswa tersebut dikarenakan nilai Ujian Nasional dijadikan sebagai syarat utama kelulusan, dan nilai tersebut siswa harus mencapai standar nilai kelulusan sesuai keputusan Kementrian Pendidikan. Pemerintah berharap, dengan adanya Ujian Nasional beserta standarisasi kelulusannya, Indonesia mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas baik. Selain itu pemerintah berharap bisa meningkatkan daya saing dengan negara lain sehingga Indonesia bisa menyaingi negara-negara maju. Harapan-harapan pemerintah yang diwujudkan dengan pengadaan ujian nasional beserta standarisasi kelulusannya tersebut dipandang negatif oleh sebagian besar siswa dan masyarakat umum. Seperti yang kita ketahui bersama, ujian nasional berjalan selama 3 hari yang meliputi 3 mata pelajaran utama untuk tingkat SD, 4 hari dengan 4 mata pelajaran utama di tingkat SMP, 3 hari dengan 3 mata pelajaran utama ditingkat SMK, dan 4 hari dengan 6 mata pelajaran utama di tingkat SMA. Dengan demikian, perjalanan sekolah para siswa tersebut ditentukan dengan sekian hari saja. Baca lebih lanjut

Pendidikan Indonesia Perlu Perubahan!

Oleh : Amellia Riani

NIM : 12104241040

Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia tentu sangat pelik dan tidak ada habisnya. Pendidikan di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Masalah terus bermunculan baik dari pihak pemerintah, pendidik, dan peserta didik. Misalnya saja masalah pemerataan pendidikan di Indonesia, banyak anak-anak di pelosok negeri sana tidak mengenal pendidikan. Di sisi lain, mereka yang berpendidikan justru mulai meninggalkan nilai-nilai moral. Misalnya saja, tawuran antar pelajar, budaya mencontek yang merajalela di kalangan peserta didik, bahkan di kalangan pendidik. Secara tidak langsung budaya semacam ini adalah awal dari kerusakan bangsa. Bukankah pendidikan adalah membimbing manusia ke arah yang lebih baik? Pendidikan yang harusnya mampu menjawab tantangan jaman dan melestarikan nilai-nilai budaya sudah disalahartikan. Sebenarnya apa yang salah dengan pendidikan Indonesia? Pendidikan Indonesia memerlukan perubahan.

Pemerintah harusnya lebih jeli dalam membuat perubahan yang berarti bagi pendidikan di Indonesia, yakni dengan lebih dahulu memprioritaskan kompetensi profesional/kualitas guru sebelum membuat kebijakan yang lain misalnya merubah kurikulum, membubarkan sekolah RSBI dan sebagainya. Apapun kurikulumnya, sekolah RSBI atau bukan, jika tenaga pendidiknya adalah guru-guru profesional maka pendidikan Indonesia mampu mengalami kemajuan. Guru adalah kunci keberhasilan utama dalam pembelajaran, tidak hanya memberikan pengetahuan saja, melainkan guru juga harus memberikan keteladanan bagi siswanya. Anak bangsa kurang akan tokoh atau sosok idola yang selayaknya ditiru. Setidaknya pendidikan khususnya tenaga pendidik mampu menjadi sosok idola dan inspirasi bagi peserta didiknya. Baca lebih lanjut

Ironi Gizi Buruk Di Negeri Pangan

Oleh : Indriyani

NIM : 12104241004

Indonesia merupakan negara agraris, dimana Indonesia termasuk salah satu negara penghasil pangan terbesar di dunia. Sejak zaman penjajahan Belanda, Indonesia sudah dikenal sebagai negara penghasil pangan terutama padi. Perkembangan Indonesia sebagai negara agraris dewasa ini dapat dikatakan bahwasannya Indonesia mengalami pasang surut dalam perkembangannya mengahasilkan pangan. Di lansir melalui kompas.com pada artikel mengenai impor beras dari Thailand yang masuk ke Indonesia pada tahun 2011 dapat sedikit disimpulkan bahwasannya keadaan Indonesia sebagai negara pangan mengalami penurunan.

Indonesia saat ini mengalami permasalahan yang serius dalam masalah pangan, walaupun di beberapa daerah di Indonesia masih dikatakan sebagai daerah penghasil pangan. Indonesia melakukan impor dan ekspor dalam perkembangannya. Permasalahan pangan yang cukup menyorot perhatian adalah dimana nilai jual hasil pangan yang dihasilkan oleh petani-petani di Indonesia, mengalami kenaikan harga jual di pasaran. Hal ini berdampak kepada rendahnya minat konsumen masyarakat Indonesia terhadap hasil pangan lokal. Baca lebih lanjut

Pengoptimalan Hasil Kelautan Di Balik Keserakahan Pihak Asing

Oleh : Leni Indriani

NIM : 12104241027

Sebagai Negara yang dikenal dengan Negara Maritim yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau, Indonesia dinilai belum memanfaatkan kekayaan lautnya secara maksimal. Belakangan ini nasib nelayan tradisional di perbatasan sangat miskin dibanding nelayan asing yang kehidupannya gemerlap. Dari segi peralatan dan kapal pun, nelayan Indonesia yang tinggal di perbatasan sangat jauh berbeda dari nelayan asing. Mereka tak mampu menelan kekecewaan terhadap kondisi yang menimpa nasib mereka yang kian hari kian menyedihkan.

Hasil tangkapan mereka semakin menurun dari waktu sebelumnya. Mereka seperti penonton, sementara orang-orang asing itu mengeruk hasil laut yang kaya akan hasil perikanan. Tak asing lagi bagi mereka jika kekayaan hasil laut dijaring oleh nelayan-nelayan asing dengan alat tangkap serta alat navigasi kapal yang serba canggih. Sementara mereka hanya gigit jari melihat nelayan-nelayan asing mencuri dengan gagah berani.

Keinginan untuk mendapatkan tangkapan ikan yang banyak sepertinya tak akan pernah mereka alami, untuk makan saja mereka harus bekerja keras apalagi untuk membeli alat tangkap yang canggih dan modern. Ekonomi menjadi kendala utama yang membuat mereka tetap memilih alat tangkap tradisional dan tidak menggunakan alat tangkap yang canggih dan modern. Baca lebih lanjut

Tradisi Pengurangan Subsidi BBM

Oleh : Arif Fajar Romadhon

NIM : 12104241001

Ketika kita mendengar kata BBM apa yang ada di benak dan pikiran kita? Tentu saja langsung terbayangkan makna BBM adalah Bahan Bakar Minyak atau kebutuhan energi yang berasal dari tambang minyak bumi. BBM merupakan kebutuhan pokok yang sangat strategis, yang krusial dan sangat mungkin mempengaruhi bahkan menentukan harga kebutuhan pokok sehari-hari. Tidak kita pungkiri bahwasanya hmpir seluruh aktivitas kita juga tidak lepas dari penggunaan atau pengkonsumsian BBM. Misalnya ketika kita mengendarai kendaraan bermotor atu transportasi, kebutuhan keluarga seperti memasak hingga ruang lingkup industri tidak lepas dari Bahan Bakar Minyak.

Harga minyak mentah di pasar internasional selalu meningkat. Sebabnya karena minyak mentah adalah fosil yang tidak terbarui (not renewable). Setiap kali minyak mentah diangkat ke permukaan bumi, persediaan minyak di dalam perut bumi berkurang. Pemakaian (konsumsi) minyak bumi sebagai bahan baku BBM meningkat terus, sehingga permintaan yang meningkat terus berlangsung bersamaan dengan berkurangnya cadangan minyak di dalam perut bumi. Baca lebih lanjut

Budayawan Kaya tapi Miskin

Oleh : Darpito Nugroho

NIM : 12104241042

Budaya atau adat istiadat menurut kamus besar bahasa Indonesia merupakan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yg sudah sukar diubah. Sementara budayawan sendiri berarti ahli kebudayaan atau orang yang berkecimpung dalam kebudayaan. Budaya sendiri juga erat hubunganya dengan kesenian, karena kesenian merupakan salah satu ciri khas pembeda dari suatu kebudayaan dengan kebudayaan lain. Indonesia sendiri memiliki berbagai macam kebudayaan dan juga memiliki asas “Bhineka Tunggal Ika” untuk dapat mempersatukan bermacam-macam kebudayaan tersebut.

Dari bermacam-macam budayawan tersebut, bermacam-macam pula kesejahteraan mereka. Ada budayawan yang sekali panggil mengeluarkan biaya jutaan, ada juga budayawan yang tanpa bayaran atau ikhlas dalam mengemban amanahnya. Pemerintah yang melihat kesenjangan ini akhirnya memiliki ide dengan mengadakan program sertifikasi kepada para budayawan. Sertifikasi budayawan merupakan suatu proses pemberian pengharagaan berupa pengakuan bahwa budayawan tersebut telah melakukan kompetensi untuk melakukan suatu pertunjukan seni dan budaya serta melestarikannya.

Sertifikasi budayawan hanya diperuntukan bagi budayawan yang telah berjuang di ranah nasional serta internasional. Sasaran pemerintah dalam mengadakan program ini adalah agar budayawan daerah dan nasional dapat bersaing di lingkup internasional. Program ini juga merupakan stimulant bagi budayawan yang bersantai-santai agar segera bergegas menonjolkan dirinya di tanah internasional. Baca lebih lanjut