Memartabatkan Transgender

Oleh : Aimma Chusna

NIM : 12104241041

Di era modernisasi ini, banyak sekali kita jumpai dan kita temukan penyimpangan – penyimpangan di masyarakat. Salah satu contohnya adalah perubahan kodrat yang tidak semestinya.  Perubahan kodrat tersebut seakan – akan menjadi hal yang sudah tidak “tabu” dalam masyarakat. Dapat kita lihat laki – laki yang perilakunya “melambai” seperti perempuan, cengeng, lemah gemulai, bahkan berpenampilan layaknya perempuan. Ataupun perempuan yang perilakunya kasar, dan pola perilakunya seperti laki – laki biasa kita sebut “tomboy”. Hal seperti itulah yang dinamakan transgender. Transgender merupakan istilah bagi seseorang yang penampilan maupun perilakunya, tidak sesuai dengan gender pada umumnya (penyimpangan pada perilaku gender). Selain trensgender kita juga mengenal istilah transeksual. Apa bedanya transgender dengan transeksual? Transeksual adalah seseorang yang identitas gendernya berlawanan dengan jenis kelaminyya secara aspek biologis. Mereka merasa terperangkap dalam tubuh yang salah. Ada ketidakpuasan dalam diri mereka, sehingga mereka ingin mengubah jenis kelaminnya. Contohya, seseorang yang terlahir dengan jenis kelamin laki – laki, namun dia merasa bahwa dirinya itu perempuan dan ingin diidentifikasikan sebagai seorang perempuan. Akhirnya dia mengubah jenis kelaminnya menjadi perempuan. Begitu juga sebaliknya. Baca lebih lanjut

Iklan

Hilangnya Rasa Aman Anak Di Keluarga

Oleh : Abdurrahman Haqiqi

NIM : 12104241023

kekerasan anak

Kekerasan terhadap anak sekarang ini terus terjadi. Bahkan, pelaku kekerasan adalah orangtua kandungnya sendiri. Akibatnya, keluarga pun bukan jaminan sebagai tempat berlindung dan kenyamanan bagi tumbuh dan berkembangnya anak-anak. Kekerasan yang dialami oleh anak dalam keluarga berupa kekerasan fisik, dan seksual. Kekerasan fisik yang dialami oleh anak berupa pukulan dan tendangan yang membuat seluruh tubuh mereka dipenuhi dengan luka lebab, bahkan dari beberapa kasus kekerasan dilakukan lebih kejam lagi. Tubuh mereka melepuh akibat terkena setrika dan kuntum rokok yang menyala. Hal yang lebih riskan anak mendapatkan kekerasan seksual dari orangtua mereka. Mereka dipaksa dan diancam oleh orangtua mereka untuk melakukan hal tersebut, sehingga ada beberapa yang sampai hamil. Kekerasan-kekerasan yang terjadi pada anak pastilah membuat psikis mereka terluka dan terganggu. Mereka akan mengalami rasa kesedihan, trauma, ketakutan, kecemasan, dan depresi yang parah pada diri mereka. Hal tersebut tentunya sangat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.

Data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyebutkan dari 5.361 kasus kekerasan pada anak yang terlaporkan ke Komnas PA sepanjang tahun 2010 hingga 2012, lebih dari 68% jenis kekerasan seksual. Sisanya merupakan bentuk kekerasan fisik. Untuk anak berhadapan dengan hukum, Komnas PA mencatat terjadi 1.494 kasus dengan proporsi jumlah anak laki-laki sebagai pelaku sebanyak 1452 orang dan anak perempuan sebanyak 43 orang. Usia yang paling banyak terjadi adalah usia 13-17 tahun. Adapun anak yang berusia 6-12 tahun sebanyak 17 orang. Dalam kasus keterlibatan anak pada narkotika, Komnas PA masih menggunakan data tahun 2010 di mana 3,8 juta anak mengonsumsi narkotika. Bahkan, data Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan korban narkotika pada 2015 bisa mencapai 5-6 juta anak. Baca lebih lanjut