“Pro Kontra Ujian Nasional”

Oleh : Antonius Setiaji Hardono

NIM : 12104241038

Ujian nasional, seakan menjadi musuh paling besar dikalangan pelajar Indonesia. Mengapa demikian? Fakta membuktikan, disaat siswa-siswi akan menghadapi Ujian Nasional, bukan rasa semangat dan termotivasi untuk lebih giat belajar, tetapi malah rasa takut yang luar biasa dirasakan para siswa. Menurut saya, depresi para siswa tersebut dikarenakan nilai Ujian Nasional dijadikan sebagai syarat utama kelulusan, dan nilai tersebut siswa harus mencapai standar nilai kelulusan sesuai keputusan Kementrian Pendidikan. Pemerintah berharap, dengan adanya Ujian Nasional beserta standarisasi kelulusannya, Indonesia mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas baik. Selain itu pemerintah berharap bisa meningkatkan daya saing dengan negara lain sehingga Indonesia bisa menyaingi negara-negara maju. Harapan-harapan pemerintah yang diwujudkan dengan pengadaan ujian nasional beserta standarisasi kelulusannya tersebut dipandang negatif oleh sebagian besar siswa dan masyarakat umum. Seperti yang kita ketahui bersama, ujian nasional berjalan selama 3 hari yang meliputi 3 mata pelajaran utama untuk tingkat SD, 4 hari dengan 4 mata pelajaran utama di tingkat SMP, 3 hari dengan 3 mata pelajaran utama ditingkat SMK, dan 4 hari dengan 6 mata pelajaran utama di tingkat SMA. Dengan demikian, perjalanan sekolah para siswa tersebut ditentukan dengan sekian hari saja. Baca lebih lanjut

Iklan

Kisah Moral Di Balik UN

Oleh : Ajeng Priharsanti

NIM : 12104241019

Ujian Nasional, sepertinya sudah menjadi bayang-bayang yang mengerikan bagi siswa yang akan menjalaninya.  Ketakutan itu membuat siswa melakukan kecurangan seperti mencontek, kerjasama dengan teman, jual beli jawaban UN, dan yang lebih parah lagi, siswa mendatangi ‘orang pintar’ untuk meminta do’a atau kemudahan dalam mengerjakan soal UN.  Hal ini tidak satu dua siswa yang melakukannya.

Kebanyakan siswa yang melakukan tindakan tersebut dilatar belakangi karena ketakutan pada diri mereka dan juga rasa tidak percaya diri dalam mengerjakan soal UN.  Mereka tidak sadar, bahwa melakukan tidakan seperti diatas, bahkan mencontek saja telah melanggar kaidah agama.  Tapi yang lebih memprihatinkan lagi, para guru yang seharusnya menentang tindak kecurangan UN malah mendukung siswanaya agar melakukan hal tersebut agar nilai merka baik.  Mereka diminta bekerja sama dengan semua teman sekelas agar berbagi jawaban, seperti yang di lakukan SD Negeri 06 Petang, Pesanggrahan, Jakarta Selatan pada tahun 2011 seperti yang saya baca di kompas.com. Baca lebih lanjut